Monday, March 19, 2012

Setetes Embun dari Upgrading ROHIS STIE Bank BPD Jateng, di Desa Medini, Kendal

Kendal, tepatnya di Desa Medini,  Kecamatan Limbangan Kidul, 17 - 18 Maret 2012, saya turut mengambil bagian dalam acara Upgrading ROHIS STIE Bank BPD Jateng. Acara tersebut dipanitiai oleh Dewan Syuro, yang tujuannya meningkatkan Ukhuwah Islamiyah di antara para pengurus dan AYD, juga meluruskan niat dakwah karena cinta kepada Allah.

Terlebih pengurus dan AYD ROHIS yang notabene adalah aktifis dakwah yang tergabung dalam LDK ( Lembaga Dakwah Kampus ) tentu benar-benar memiliki amanah dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam lingkungan kampus pada khususnya dan kehidupan sehari-hari pada umumnya.

Galau karena Allah?
Hati dan pikiran saya masih belum plong, kalau istilah alaynya "galau" tapi sebenarnya yang dimaksud di sini adalah risau,  resah, bimbang, karena ada sesuatu yang menganjal. menurut mas'ul ROHIS periode sebelum, Akh Ahmad Rizqiawan untuk menjelaskan kerisauan ini dengan mengutip pernyataan kang Ujib ( Mujib El Shirazy ), yaitu "Kekerasan Sosial adalah Manakala Realisasi Aktual Di Bawah Realisasi Potensial". 

Benar, kegiatan aktifis dakwah tak terlepas dari yang namanya dakwah. Lantas, apa masalahnya? Seperti saya mendeskripsikan diri saat SMA, "Manusia lemah tanpa daya yang mengharap kasih Allah". Saya ikut ROHIS karena kata Opick dalam Tombo Atinya, Berkumpulah dengan orang-orang shaleh, tentu saya mengharapkan kasih Allah, tetapi yang ada hal yang membuat risau yaitu ilmu saya masih dangkal, saya belum banyak memiliki pengalaman, jangankan untuk menyampaikan dan mengajak orang berbuat baik dan beribadah, diri sendiri saja masih penuh dosa dan tak disangkal kadang jarkoni. Jadi apakah saya bisa melakukan dakwah?

Diingatkan pula pada sabda Rasul,
"Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya jika tidak bisa maka dengan lisannya, jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.",
 kemudian dilanjutkan menggambarkan sosok Rasulullah, yang mampu berdakwah secara total tapi yang istimewa adalah "Suri Tauladan". Jadi sebelum menyampaikan dan mengajak kebaikan maka perbaiki dahulu diri sendiri, setidaknya ketika belum mampu menyampaikan ilmu, dapat memberikan contoh yang baik.

Hikmah yang Tersirat?
Di kala dinginnya malam, di daerah perkebunan teh medini, tiba-tiba teringat pada cerita Abu Nawas ketika berdoa yang saya kenal I'tiraf, yang kurang lebih artinya :
” Ya Tuhanku, aku tidaklah pantas menjadi ahli syurga firdausMu
Namun aku juga tak kan sanggup masuk ke neraka jahimMU.
Oleh karena itu, terimalah taubatku dan tutupilah dosa – dosaku.
Sesungguhnya Engkau maha mengampuni dosa – dosa besar.
Dosa – dosa ku seperti hamparan pasir di laut, maka terimalah taubatku wahai Dzat yang Maha Agung…
Umurku terus berkurang setiap hari, namun dosa – dosaku bertambah setiap hari…Bagaimana aku mampu menanggungnya ?
Ya Tuhanku, hambaMu yang berlumur dosa ini datang kepadaMUSesungguhnya aku benar – benar berdosa kepadaMU
Dan bila Engkau tidak mengampuni aku, kepada siapa lagi aku berharap selain Engkau ?”
Jujur saya belum mampu menjadi orang Islam yang kaffah, jangankan berdakwah, untuk mengelola diri sendiri saja masih belum mampu sepenuhnya. Namun, kata-kata yang saya ingat benar saat upgrading adalah kiyta harus menjadi orang yang berilmu, belajar, belajar, dan belajar, karena orang yang berilmu itu akan bijak dalam menghadapi masalah, melihat masalah dari berbagai sisi atau aspek, sehingga tidak melibatkan emosi dalam menanggapi masalah.Ibarat padi, semakin berisi semakin merunduk, semakin berilmu semakin takut kepada Allah SWT.

Kadang saya merenung mengenai keinginan untuk mempelajari semua disiplin ilmu bisa dibilang saya suka dengan berbagai hal yang menambah wawasan, terlebih lagi menuntut ilmu itu bernilai ibadah selama kita niatkan untuk mencari Ridha Allah dan ingat amanah kita sebagai khalifah. Namun, saya juga manusia, entah mengapa viurs "malas" belum bisa diremove.

Kalo dipikir-pikir, kenapa juga ya ayat Al Quran yang pertama kali diturunkan oleh Allah itu adalah Surat Al Alaq ayat 1 sampai 5? Saya yakin itu adalah perintah untuk membaca manual book mengelola bumi ini. Semua orang pastilah tahu dengan kata "IQRA", saya yakin masih banyak makna  tersirat dari ayat ini. Tidak hanya perintah membaca alam semesta untuk menemukan siapa itu Allah dan menggunakan kalam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Subahanallah, di upgrading ini mengajarkan bahwa kita itu tidak hanya mengaji tetapi juga mengkaji, dan inovasi. Itu semua dapat dilakukan dengan membaca dan belajar. Kebanyakan orang ketika bertemu kata belajar langsung membayangkan pada suasana pusing, stress, beban, dll. Padalah kalo ingat ayat Allah :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Al-Baqarah, 2: 164)
Tanda-tanda kebesaran Allah atau hikmah dari setiap peristiwa apapun itu harus dicari dan melalui proses berpikir. Jadi, apa alasaan kita malas atau enggan berpikir?

Jadi, yang dapat saya simpulkan dari  perenungan kemarin selain ukhuwah Islamiyah adalah sebelum "menyampaikan", terus belajar dahulu (baca: Iqra') berbagai disiplin ilmu dengan dilandasi mengharap "Ridha Allah"kemudian "ilmu" itu "diamalkan" terutama memlalui "tauladan" senantiasa membenahi diri. Ketika  mampu dalam artian memiliki kekuatan/kuasa, barulah melalukan dakwah yang sebenarnya baik itu dakwah fardhiah, ammah, maupun bil-lisan.

Karena yakin sama percaya itu beda

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon