Sunday, December 14, 2014

Kini Kutahu Rasanya Berjuang Mencari Apa Yang Dicari

Maafkan Aku, Pak Pos
Suka Duka Bersama Gembala (c) Suroto “Jimboeng”
Apa yang kalian bayangkan jika menjumpai motor bebek yang bercorak warna oranye dengan slogan, " Untuk Anda Kami Ada"? Ya sebuah profesi yang belum tentu orang mau, sebut saja tukang pos. Dulu profesi ini adalah profesi yang paling saya kagumi. Betapa tidak, ketika jarak memisahkan saya dan ibu di Pulau Jawa dengan ayah yang berada di pulau cendrawasih, jaringan telepon susah nan mahal harganya. Jauh berbeda dengan jaman sekarang di era selular, email, facebook, bahkan BBM yang sekali klik pesan langsung sampai. Maka, satu-satunya pilihan dalam berkirim pesan adalah melalui surat yang dikirim melalui pos. Hal yang membuat saya kagum adalah di manapun alamat surat yang dituju, berapapun jauh jaraknya, pak pos selalu berusaha menyampaikannya sampai tujuan. Ups, hampir panjang lebar, cerita cinta terkait pak pos, untuk tulisan lainnya saja.

Kurang lebih 8 bulan yang lalu, tanpa disadari saya bersalah terhadap pak pos. Saat itu, kedua adik saya, Agus dan Faiz, masing-masing meminta dibelikan sebuah buku cerita. Saya menyanggupinya dan menjanjikan akan membelikannya di Semarang, untuk kemudian dikirim melalui Pos Indonesia. Buku pesanan sudah dibeli dan saya bungkus rapi dengan kertas warna coklat dibalut dengan solasi di seluruh sisi. Sesampainya di kantor pos saya tempel selembar kertas kecil di bungkusan buku. Saya bubuhi tulisan nama penerima dan alamat lengkap. Nama penerima saya tulisan dengan nama julukan adik saya, " Kukuk dan Kikik". Paket ditimbang, kemudian menyelesaikan pembayaran dan saya mendapat resi berwarna kuning yang di dalamnya tertera kode untuk melakukan traking atau mengecek apakah paket sudah sampai (terkirim) atau belum. Selang seminggu saya mendapat pesan dari ibu, bahwa paket sudah diterima, tetapi entah mengapa saya diomeli ibu melalui pesan singkat (SMS) gara-gara bikin tukang posnya stress.

Simgkat cerita singkat cerita 3 minggu kemudian, saya masih ingat waktu itu masih bulan Mei saya pulang ke Rumah di Karangpucung (Cilacap). Pada suatu pembicaraan, tiba-tiba ibu kembali mengomeli saya perihal pesan singkat tempo hari. Beliau bercerita tentang tukang pos yang ternyata dulunya adalah penjaga SD, tempat saya mengenyam sekolah dasar kelas 3 & 4 (selama setahun). Ibu bercerita melihat ada tukang pos modar mandir lewat depan rumah, bolak balik tampak penuh kebingungan. Begitu lelahnya terlihat dari peluh yang bercucuran, panas terik membuatnya begitu kehausan. Masih diperhatikan oleh ibu ia menanyakan dari rumah satu ke rumah yang lain dalam 1 RT. Dipanggilnya oleh ibu, dan beliau menanyakan soal paket yang dikirim oleh anaknya yang menuntut ilmu di Semarang. Mata yang berbinar-binar seolah menemukan harapan dalam keputus-asaan, ia pun menjelaskan bahwa kebetulan ia mengantarkan barang di RT ini, alamat sudah benar, tetapi nama penerima, "Kukuk dan Kikik" menurut warga tidak ada yang memiliki nama itu. Sontak ibu saya mengatakan bahwa nama itu adalah nama julukan (baca: wadanan) kakaknya untuk kedua adiknya. Entah kesal atau terlalu lelah, kemudian tukang pos segera memberikan paket ke ibu dan berpamitan. Ibu pun meminta maat soal kesalahan anaknya. :-D

***

Mencari Apa yang Dicari bersama Si Biru
Mencari Apa yang Dicari bersama Si Biru (c) Eko Sudarmakiyanto
Itulah cerita yang selalu ingat hingga sekarang, terlebih jika dikaitkan dengan profesi saya saat ini. Mungkin akibat suatu perbuatan yang saya lakukan di masa lalu (baca: kualat) terhadap pak pos. Ya kegiatan yang biasa tukang pos lakukan tiap hari, kini harus saya alami juga tiap hari. Bermodal nama dan alamat, harus hafal seluk beluk jalan desa, gang, RT, RW, batas desa, segala medan harus ditempuh demi mencapai alamat yang dituju apapun kondisinya entah, panas, hujan, atau bahkan angin kencang. Apapun medannya beraspal halus, jalan berbatu penuh kerikil, becek, berlumpur atau bahkan masuk semak pun harus dilalui demi sampai tempat tujuan. Seperti yang terlihat di gambar, itulah jenis medan yang sering di lalui, terutama di kala musim penghujan.

Positifnya, setiap hari saya bisa berpetualang di sebuah kecamatan bagian barat paling selatan Kabupaten Cilacap, sebut saja Partimuan (informasi cari di Google atau Wikipedia). Meski jika dipikir-pikir tugas saya melebihi tukang pos. Jika tukang pos hanya menyampaikan surat/paket ke nama penerima sesuai alamat yang dituju. Maka saya, tidak cukup hanya itu, selain harus paham nama dan alamat, harus paham bagaimana kondisi keluarganya, kondisi sosialnya, dan yang pasti bagaimana kondisi "usahanya" jadi wajib bagi saya untuk menggali informasi untuk memahami posisi finansialnya. Di samping itu, saya juga dituntut menggali informasi jumlah anggota keluarga, berapa yang menjadi tanggungan hidup harus diketahui. Berpedoman pada kartu keluarga, maka dapat diketahui jenis kelamin dan tanggal lahir, jadi bisa ditanya soal anaknya, dasar untuk memperkirakan biaya kebutuhan hidupnya. Hehe... :-D

Karena yakin sama percaya itu beda

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon