Sunday, December 28, 2014

Sepenggal Coretan dari Gunung Gede 2.958 mdpl

Sepenggal Coretan dari Gunung Gede 2.958 mdpl
Gunung Gede, sebuah gunung yang terletak di 3 (tiga) kabupaten yaitu Bogor, Cianjur dan Sukabumi dengan ketinggian 2.958 mdpl. Gunung ini berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede Pangrango yang didirikan untuk melindungi dan mengkonservasi ekosistem dan flora pegunungan yang cantik di Jawa Barat. Mendengar kata Gede Pangrango, maka pikiran langsung tertuju pada satu tokoh aktivis Indonesia Tionghoa yang menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto, juga sebagai pendiri Mapala UI. Dia lah Soe Hoe Gie, terkenal dengan puisi-puisi tentang Mandalawangi yang menciptakan romantisme bagi para perempuan.

Kesan pendakian kali ini agak luar biasa, karena anggota tim terpisah. Ada yang di ujung utara Jawa tengah, sebagian di ujung selatannya. Disamping itu proses persiapan pun agak berbeda, karena harus booking melalui website dan melakukan transfer untuk mendapatkan validasi yang nantinya ditukar dengan surat ijin pendakian setelah membeli tiket tentunya. Personil masih sama yaitu Tim PIQ Adventures minus 1 jadi ada 6 personil yaitu saya Eko Sudarmakiyanto, Imam Aris Munandar, Didin Solihin, Gilang Eko Budiono, Duwi Sepriyanto, dan Aji Abdurohman. Berbagai kendala telah dilalui mulai dari kurang dana, kehabisan tiket kereta, hingga waktu berkumpul di basecamp transit (Rumah Gilang Eko Budiono/Codoc, Tarisi) yang mepet membuat dag dig dug der. Terlebih saya harus menerjang banjir di daerah di Sidareja dulu sebelum mencapai basecamp transit.

Pendakian Rutin Tahunan atau Obrol Tua?
Selfie PIQ Adventures
Seumur-umur mendaki, baru sekali ini selfie di jalur pendakian
Gede-Pangrango samping lapangan golf, kebun raya Cibodas
Tepat setahun lalu adalah pendakian gunung Semeru yang diikuti personil PIQ Adventures lengkap. Di akhir tahun 2014 tepatnya tanggal 25 - 27 Desember 2014 kembali kami berkumpul setelah lama terpisah jarak. Tanpa disadari ternyata tiap akhir tahun kita selalu berkumpul bersama entah sehari atau dua hari. Dulu di jaman sekolah menengah atas dan kuliah semester awal, mungkin sekedar bakar-bakar ayam di pinggir sungai Citanduy. Namun sejak di tengah perjalanan kuliah hingga saat ini, gunung menjadi tempat nongkrong kami yang lebih mesra. Begitu semangatnya kawan-kawan dari Magelang, Batang, Semarang nekad ke Cilacap untuk kemudian menggapai Cibodas menuju puncak Gede-Pangrango. Semua itu demi obrol tua.

Obrol tua, sebuah istilah kami untuk menyebut saling lepas kerinduan saling bercurhat ria dalam suasana yang mesra. Gunung hanyalah salah satu objek atau media untuk obrol tua. Inti dari pendakian ini adalah pertemuan (baca: silaturahim). Kalau ingat jaman ngaji waktu kecil, pak ustad pernah cerita tentang sabda Rasul yang kurang lebih bunyinya,
 “Tidak ada satu kebaikan pun yang pahalanya lebih cepat diperoleh daripada silaturahmi, dan tidak ada satu dosapun yang adzabnya lebih cepat diperoleh di dunia, disamping akan diperoleh di akherat, melebihi kezaliman dan memutuskan tali silaturahmi.”
di riwayat lain juga (Anas ra) sabda Rasul,
“Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dilamakan bekas telapak kakinya (dipanjangkan umurnya), hendaknya ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Mutafaq ‘alaih)
Semoga apapun kegiatan kami dapat bernilai ibadah, meski itu hanya pendakian gunung. Bagaimana tidak, walau hanya mendaki gunung, sadar tidak sadar kami bisa saling mengenal keluarga antar personil yang dikunjungi. Jika ingat lagi pelajaran jaman sekolah dasar tentang mempererat tali silaturahim, banyak hal yang dapat dilakukan untuk mempererat tali silaturahim, diantaranya : (1) Ungkapkan rasa cinta, (2) Tunjukkan wajah bahagia, (3) Berjabat tangan, (4) Saling berkunjung, (5) Memberikan ucapan selamat, (6) Saling memberi hadiah, dan (7) Saling membantu.

Pesona Gede-Pangrango
Awal yang membuat penasaran adalah kisah dari Soe Hoe Gie, karena Gede-Pangrango terutama Pangrango yang menjadi favoritnya sebagai sumber inspirasi jutaan puisi yang tercipta. Berikut ini salah satu puisi karyanya menggambarkan pesona Mandalawangi :

Mandalawangi-Pangrango

Senja ini, ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu

Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan

Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah”

Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Djakarta 19-7-1966
Soe Hok Gie

Selain kaya akan flora dan fauna yang unik dan dilindungi, juga terdiri dari berbagai objek wisata y ang bisa dijangkau oleh keluarga yang berlibur, seperti Kebun Raya Cibodas, Bumi Perkemahan Mandalawangi, Air Terjun Cibeureum, dan Lapangan Golf. Sehingga tak heran di kelola oleh Balai Taman Nasional yang menurut saya tergolong megah. Bahkan mulai booking, pendaftaran hingga pendakian tergolong dalam pengawasan ketat. Istilah Jawa, '" Ono rego, ono rupo", memang benar dikelola dalam manajemen yang rapi, dan tak heran biaya masuknya pun lumayan tinggi dibanding pendakian gunung-gunung lain. Jangan kaget juga harus mempersiapkan materai 6.000 lebih dari 2 atau sesuai jumlah personil terutama yang merasa membawa perlengkapan kurang lengkap.

Perjalanan Penuh Khidmad?
Persiapan pendakian dilakukan di basecamp transit, rumah salah satu personil di Tarisi, Meluwung, Wanareja Kab. Cilacap. Imam, Duwi, Aji dan Gilang perjalanan semalam suntuk dengan dua kuda besi dari Semarang ke Batang, lanjut Cilacap via Pemalang dari jam 6 sore malam tanggal 24 hingga jam 6 pagi tanggal 24. Didin di Pesahangan menunggu disamper Imam, Duwi baru kemudian ke rumah basecamp transit. Aji dan Gilang langsung menuju basecamp. Saya masih jalan-jalan dari muter dari Patimuan-Majenang-Karangpucung- Patimuan lagi, keliling desa lagi, baru sore sekitar jam 5 menuju basecamp, perjuangan juga menerjang banjir di kawasan Kec. Sidareja. Kira-kira magrib tiba, peking, makan, pamit dan berangkat selepas Isya menggunakan angkot menuju Cukangleuleus di agen bus Budiman.

Rencana menggunakan Bus Budiman batal karena tidak ada jadwal. Beruntung ada "si doi", ya kami naik Bus Doa Ibu menuju Cileunyi, kemudian lanjut dengan "si doi" lain. Sampai Cibodas menjelang waktu adzan subuh, lanjut naik angkot menuju Balai Taman Nasional. Menunggu Balai Taman Nasional buka sekitar jam 9-an, kami "berteduh" dulu di Rumah Allah tepatnya masjid di belakang balai. Sekitar jam 9, balai dibuka, selang beberapa menit langsung dibanjiri pengunjung yang sama-sama bermaksud menukar formulir dan bukti pembayaran booking online dengan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi). Berhasil memperoleh Simaksi, kami sarapan lontong dan ayam goreng bekal dari rumah yang dibawa salah satu personil. Kurang lebih jam 11-an kami siap untuk memulai langkah kecil menuju kedua puncak Gede-Pangrango. Wajah berseri-seri kami tampak membayangkan bagaimana hamparan bunga edelweiss di alun-alun Suryakusuma dan wanginya Mandalawangi.

Sebelum berangkat melewati lapak -lapak pera pedagang kami berpose
dahulu di depan Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Setelah menukar Simaksi di Balai Taman Nasional, Sebelum masuk kawasan
 konservasi wajib melewati pos lapor/pemeriksaan.
Seperti biasa, gaya pendakian kami. Saat masih fit dan power full, setiap langkah tidak lepas dari keceriaan, canda, tawa, ece2an, dan yang pasti selalu menyebut "arah jam". Gaya slengek'an yang menurut orang nyleneh, manjadi kesan tersendiri bagi kami, tidak di kos, rumah, di objek wisata yang ramai pengunjung pun tetap seperti itu. Tidak ada yang berubah dimana pun kami berada. Jika tiba-tiba terdiam, itu pertanda, kalau tidak lapar, lelah, berarti ada "sesuatu". Sesuatu itu tidak tahan inigin ngecamp, intinya ya sama lapar dan lelah, hehe :-D. Itulah yang disebut khidmad...

Target perjalanan yaitu menuju Kandang Badak, yaitu tempat ngecamp juga persimpangan antara Gunung Gede dengan Gunung Pangrango. Siapa sangka jarak peta dengan kenyataan tidak bisa ditarik benang merah. Hampir setengah tahun tidak mendaki, tidak olah raga, ibarat motor tidak pernah dipanasi langsung tancap gas perjalanan jauh nan menanjak ya ngos-ngosan kesimpulannya. Terlebih pemandangannya hanya hutan penuh pepohonan, trek yang selalu memberikan kejutan. trek berbentuk letter "S", setelah datas disuguhi tanjakan yang lumayan hampir vertikal. Rupanya perjalanan menuju Kandang Badak harus melewati beberapa pos/shelther, mulai dari telaga biru, air terjur cibeureum, shelther denok 1, denok 2, batu kukus2, batu kukus2, air panas, kandang batu hingga sampailah di Kandang Badak. Jadi perjalanan mencapai Kandang Badak dengan gaya pendakian kami ditempuh sekitar 12 jam. Di Kandang Badak, kami mendirikan dua dome lengkap dengan fly sheet. Beruntung, setelah sampai Kandang Badak, dan dome berdiri hujan baru tiba dengan rombongan besarnya.

Jumat, tanggal 25 Desember 2014, kami melanjutkan perjalanan tanpa membawa keril. Perlengkapan secukupnya seperti mantel dan logistik dibawa dalam satu tas. Meski kosongan tanpa membawa barang, rasanya masih luar biasa, karena masih harus melewati yang namanya tanjakan setan. Benar sesuai namanya, tanjakan ini bukan hampir vertikal tetapi memang benar-benar vertikal. Sehingga kami memutuskan mengambil jalur alternatif. Ternyata eh ternyata pemandangan masih sama hutan penuh pepohonan, meski sedikit bisa mengintip puncak pangrango. Tampaknya sebagian dari kami sebenarnya frustasi cuma gengsi mengungkapkannya. Biasa, "Utek-utek bulus, sing ngerti ya bulus tok". Saya tahu karena saya sendiri merasa seperti itu (baca: frustasi), hehe :-D. Ada si sedikit obat, yaitu "macan". Hati-hati di sana banyak "macan" yang bisa membuat kita cenat cenut bercak kagum terhadap Sang Pencipta. Sehingga membuat kita bersimpul tangan menengadah dan melempar untaian doa agar diberi satu. Hahaha iya macan (baca: manusia cantik).
Menikmati makan siang di tengah perjalanan melewati pinggiran kawah
sebelum benar-benar puncak.
Uji kamera depan Xiomi milik Imam Aris Munandar :-D
Perjalanan menuju benar-benar puncak masih jauh
harus melewati satu tanjakan itu...
Kalau mau ke Alun-alun Surya Kencana yang penuh dengan
hamparan bunga edelweiss harus turun, arah naik harus melalui
jalur gunung putri. Seperti "macan" cukup dapat memandang dari
kejauhan :-(
Filosofi Puncak
Benar kata para pendaki sungguhan, porter, dan para orang tua, "Puncak bukan Tujuan". Jadi jangan jadikan puncak sebagai tujuan. Bagi kami puncak adalah target bukan tujuan, karena setelah target satu tercapai kami harus mencapai target yang lain. Seperti misi kali ini, setelah target puncak Gede tercapai, target selanjutnya adalah puncak Pangrango dengan eksotisme Mandalawanginya. Lagi-lagi rencana adalah rencana, kadang terealisasi kadang masih hanya ekspektasi. Di kehidupan nyata kita harus cepat dan tepat dalam mengambil keputusan dalam sebuah proses. Ada target yang bisa diraih saat itu, ada yang di lain waktu, begitu juga dengan puncak pangarango. Berbagai pertimbangan mulai dari kekuatan fisik, perbekalan, hingga batas waktu yang diberikan membuat kami harus berlapang dada kembali menuju tujuan. "Tujuan utama adalah Rumah"

Pada intinya puncak dalam kehidupan nyata adalah sebuah pencapaian. Seperti wisuda yang hanya sekejab mata memindahkan tali toga setelah serangkaian pahit getir menjalani masa perkuliahan dengan berbagai ujiannya selama 4 tahun atau  mungkin lebih (curhat :-D ). Sesungguhnya wisuda hanya salah satu target. Setelah target tercapai maka akan ada target selanjutnya yaitu pencarian kerja/penciptaan lapangan kerja. Saat engkau memperoleh kerja bukan berarti selesai, masih ada target selanjutnya. Adaptasi, status, mungkin pangkt/golongan, yang ujung-ujungnya adalah finansial. Tidak berhenti disitu, masih selalu menciptakan target selanjutnya pencarian tulang rusuk yang hilang, hingga melipatgandakan jumlah, bahkan hingga tiada. Setelah itu barulah ke tujuan, yaitu rumah (baca: kembali ke Sang Pencipta). Seperti yang tersurat dalam untaian kalimat Istirja', "Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali".

Jadi, hidup itu seperti mendaki dari gunung yang satu ke gunung yang lain, ujung-ujungnya kembali ke rumah. Sehingga puncak itu bukan tujuan akan tetapi pencapain. Setelah berproses melewati berbagai medan dalam jalur pendakian. Tetua kami, Duwi Sepriyanto menambahkan wejangan, bahwa dalam proses harus, "Nrimo ing Pandum" karena, "Urip Kui Ibarat Mung Mampir Ngombe !"
Alhamdulillah dengan Nrimo ing Pandum, Kami berhasil berpose di plang Puncak Gede
dari kiri ke kanan : Imam, Eko, Gilang, Didin, Aji, Duwi
Kawah Gunung Gede, tapi tidak tahu entah kawah Lanang, Ratu atau Wadon
Hanya bisa memandang,  terdiam "Mengaggumi dari Jauh"
Gunung Pangrango dilihat dari Puncak Gunung Gede.
Perjalanan turun dari Puncak
Siapa Menolong akan Ditolong
Perjalanan turun menuju tempat camp di Kandang Badak lebih cepat dibanding menuju puncak. Akan tetapi, langkah kaki sedikit menyeret. Jelang sampai camp turunlah butiran-butiran air dari langit yang mainnya keroyokan dalam jumlah yang tidak sedikit dan ukuran yang lumayan membuat basah. Kami tiba saat waktu ashar. Rencana awal istirahat satu jam, kemudian peking dan selepas magrib turun menuju Balai Taman Nasional, karena kami dibatasi waktu harus turun maksimal jam 12 malam.

Hujan tak kunjung reda, rupanya badan pun telah bermanja di atas matras dalam satu sleeping bag untuk 3 orang. Serasa melek-melek ayam, tetapi jiwa entah berpetualang kemana. Tengah malam terbangun oleh tetesan embun dibawah atap dome (tenda). Ada yang masak, ada yang memperbaiki ikatan fly sheet (terpal) dan saluran air, ada yang masih melingkarkan badan dibawah sarung. Keputusan siap menerima resiko denda, karena pendakian melebihi batas waktu yang diberikan. Pagi hari di tenda kami masih sunyi sepi sepertinya masih terjebak dalam alam mimpi, padahal keributan sudah terdengar dari tenda kelompok lain yang saling berbalas sautan. Seorang dari tenda kami bangun, ternyata segera setoran tunai. Untuk ini Gunung Gede, yang notebene tidak bingung dengan sumber air, sehingga meminimalisir penggunaan tisu sebagai struk transaksi. Setelah semua terbangun dari mimpi masing-masing, maka peking dan siap turun.

Tidak lama berjalan, di shelter batu kukus2. Kami menjumpai ada kerumunan para pendaki. Tanda tanya segera tergambar di kepala kami. Didapat informasi, ada orang yang terkena hipotermia, yaitu ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan panas tubuh atau menyesuaikan suhu dengan cuaca dingin. Tiba-tiba saya teringat sebuah peristiwa beberapa tahun silam di Gunung Sumbing. Ada salah satu kawan yang terkena hipotermia, gejalanya penderita jadi aneh, yang biasa cerewet jadi pendiam, yang pendiam jadi cerewet, dan cenderung  penderita menyendiri.

Kembali ke Batu Kukus 2, korban hipotermia diangkat ke atas sebuah tandu yang dibuat dari 2 buah kayu panjang dan 2 buah kayu pendek di kombinasi dengan matras. Dua orang di depan tampak cekatan, saya yakin mreka adalah orang lokal dua orang di belakang tampak cepat lelah,saya yakin mereka teman si korban. Dugaan itu ternyata benar, sayang tim si korban pecah sebagian besar lanjut dan yang ikut turun hanya 4 orang ditambah dua orang porter. Kami berjalan tepat di belakang rombongan pembawa korban. Melihat kondisi di depan lelah dan sedikit kesulitan maka kami secara sukarela membantu mengangkat si korban secara bergantian hingga mencapai pos lapor/pemeriksaan.

Benar kata pak Ustadz,
“Barang siapa yang memudahkan urusan orang lain maka Allah akan memudahkan urusan kita”
Setelah lapor turun, spontan petugas langsung membentak karena turun melebihi batas waktu yang diberikan. Denda yang harus dibayar adalah 10 kali lipat dari harga tiket yang dibayar. Jadi kalau dihitung, harga tiket per orang adalah Rp 20.000,- kami ada 6 orang, sehingga total tiket Rp 20.000,- x 6 = Rp 120.000,-. Sementara denda = 10 x Rp  120.000,- = Rp. 1.200.000,-

Waduh uang dari mana, budget yang kami bawa sudah melalui perhitungan pas. Itu hal yang tidak disangka, sehubungan telah membantu kelompok lain jadi kami dibebaskan dari denda. Betapa bersyukurnya kami selamat dari denda.

Istirahat Emperan Pos Lapor/Pemeriksaan
Berpose di Gerbang Pendakian
Melewati lapak para pedagang
Belanja buah tangan untuk yang di rumah
Menunggu bis Pulang
Akhirnya kami memperoleh bis Doa Ibu lagi jurusan Jakarta- Tasik, meski harus berdesak-desakan dan berdiri cukup lama. Semua ingin selfie tetapi pada jaim. Dari Tasik lanjut naik bis Harum Prima sampi ke Cukangleuleus.
Suasana setelah Shalat Subuh, menunggu angkot

Pada akhirnya setelah kembali ke basecamp, dan tidur setengah hari. Semua kembali ke habitat masing-masing sesuai dengan ekosistemnya. Asal Magelang kembali ke Magelang, asal Batang kembali ke Batang, yang di rumah ya tetap dirumah. Senin kembali ke rutinitas. Haha sepertinya Senin cepat sekali...

Karena yakin sama percaya itu beda

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon