Saturday, February 14, 2015

Dulu Gembala Kambing, Sekarang Belajar Saja

Zaman kecil bangun tidur langsung narsis dengan si embek
Siapa yang tidak tahu kambing, hewan berkaki empat pemakan rumput (herbivora) yang memamah biak. Memiliki sepasang tanduk di kepalanya (saat dewasa), rambut (ada yang menyebut bulu) disekujur badan, telinga panjang dan cenderung melambai di samping kepala. Ciri khas suka mengembik (mengeluarkan suara "mbeeeek").  Apa yang  di benak kita tentang kambing? Ini bukan cerita kambing jantannya Raditya Dika loh ya.

Tuntutan rutinitas saat ini, membuat saya tidak lepas dari usaha mikro masyarakat desa seperti pertanian padi, peternakan, industri rumah tangga pengolahan gula kelapa, perdagangan hasil bumi, perdagangan hasil ternak. Khususnya usaha ternak kambing yang secara tiba-tiba mengingatkan masa kecil saya saat berada di tanah Papua. Sebuah daerah di pedalaman Papua, Kecamatan Asologaima, jauh dari sentuhan hiruk pikuk suasana kota. Daerah yang masih jauh dari harapan menyala lampu tenaga listrik. Sehingga hampir 90% penduduknya harus bercocok tanam, ternak, dan berburu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Gembala kambing bersama ibu di lapangan Asologaima, Jayawijaya, Papua
Saya masih ingat benar, dahulu bapak membeli sepasang kambing dan diternak di sebuah kandang berukuran sedang. lambat laun, dari dua ekor berkembang menjadi 20 ekor. Seringnya saya bersama ibu, menggembalakannya di tanah lapang yang lebat dengan rumput. Kadang anak kambing (cempe) yang masih mungil saya gendong bagai adik sendiri, kadang juga kejar-kejaran di tengah lapang luas. Berguling-guling dengan tawa yang begitu lebar tanpa beban masalah. Bersembunyi di antara lebatnya rerumputan yang tinggi-tinggi.

Tidak hanya itu, saya juga masih ingat lagu anak-anak di zaman saya tentang anak gembala. Sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Tasya. Kurang lebih liriknya seperti ini :
Aku adalah anak gembala
Selalu riang serta gembira
Karena aku senang bekerja
Tak pernah malas ataupun lengah
Tralala la la la la
Tralala la la la la la la
Setiap hari ku bawa ternak
Ke padang rumput, di kaki bukit
Rumputnya hijau subur dan banyak
Ternakku makan tak pernah sdikit
Tralala la la la la
Tralala la la la la la la

Jauh berbeda ddengan zaman anak-anak sekarang, yang sering didendangkan di teling-telingan mereka adalah lagu dangdut koplo, salah satunya yang berjudul "wedhus". Petikan liriknya, "Mending tuku sate timbang tuku weduse, dst" yang menurut saya memberikan pelajaran kurang baik bahkan tidak mendidik.

Hikmah Gembala Kambing
Ternyata kambing bukan hewan ternak sembarangan loh. Terbukti sejak zaman nabi pertama hingga zaman Rasulullah, mereka semua menggembala kambing. Bahkan ada riwayat yang mengatakan, "idak ada seorang nabi yang Allah utus kecuali menggembalakan kambing. Seluruh nabi yang Allah utus pertama kali menggembalakan kambing, agar mereka mengetahui dan berlatih mengurus dan mengatur dengan baik. Berdasarkan cerita sejarah para nabi, maka kita dapat belajar :

Kepemimpinan
Kambing bukanlah hewan yang mudah diatur dengan cara digembala tanpa tali yang membatasi gerak, berjalan kemana saja, memakan apa saja yang bisa dimakan. Maka, diperlukan sifat mengatur, mengarahkan, dan melindungi. Penggembala tentu akan mengatur agar kambing yang jumlahnya tidak sedikit tetap berkelompok, tidak terpisah hingga dimangsa serigala atau hewan buas lainnya. Penggembala akan berusaha mencari dan mengarahkan kambing-kambing ke tempat yang banyak rumputnya. Begitu juga melindungi kambing-kambing dari berbagai ancaman, seperti hewan buas, terjebak tali, makan plastik, pun menjadi tanggung jawab penggembala. Keberanian pun menjadi sifatnya, manakala harus berhadapan dengan hewan buas yang hendak memangsa salah satu kambing. Setelah kambing-kambing memperoleh cukup makan, nyaman dan aman dalam kawanan, maka penggembala barulah bisa istirahat. Namun, istirahatnya pun tetap selalu introspeksi diri, melakukan perenungan, kadang menikmati alam menggagumi keindahan karya Sang Pencipta agar lebih dekat dengan-Nya.

Kerja Keras
Jumlah kambing yang tidak sedikit, juga kadang masih liar, sungguh tidak mudah ditaklukkan. Maka, diperlukan kesabaran dan keuletan dalam menggembala. Penggembala dituntut menunggu, menjaga dan mengawasi, memastikan satu-persatu kambing agar tetap dalam jangkauan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dibutuhkan jiwa yang tahan banting, mencarikan rumput yang kadang di tempat jauh,  terik pun begitu menyengat.

Rendah Hati
Anak kuliahan atau lulusan sarjana (di luar jurusan peternakan dan pertanian), yakin mau gembala kambing? Tentu ini menjadi tantangan yang luar biasa. Seperti yang kita tahu, gembala kambing (baca: angon wedhus) bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi banyak dipandang sebelah mata. Tak jarang para gembala sering diledek (baca: diece). Maka, salah satu hikmah dari menggembala kambing adalah mengembangkan sikap yang selalu rendah hati (tawadhu) dan tidak minder. Bagaimana melihat manfaat lebih penting ketimbang gengsi semata.

Rasa Cinta
Kambing termasuk jenis hewan yang lemah lembut, sehingga menjaganya diperlukan cinta dan kasih sayang (menggunakan hati). Pernah dengar istilah "tangan panas"? Menurut masyarakat desa sebagai cocok-cocokan memelihara hewan ternak. Akan tetapi kuncinya adalah bagaimana menyayangi dan memeliharanya dengan penuh keikhlasan. Bagaimana perasaan penggembalanya mempengaruhi kenyamanan hewab gembalaannya.

Kemandirian Ekonomi
Seorang gembala dikenal sebagai pekerja lepas, diberi amanah kemudian diupah sesuai perjanjian. Hal ini menyiratkan tanggungjawab seorang gembala terhadap kepercayaan majikannya. Bagaimana seorang pekerja menyelesaikan pekerjaan dab kemudian dibayar sebagai bentuk gaji/upah. Ini adalah soal proses, proses pada tahap awal menuju kemandirian. Berbagai hikmah dan ilmu gembala nantinya akan membentuk jiwa yang tahan banting dengan segudang pengalaman. Diimbangi ketersediaan modal materi nantinya akan mengarah ke kemandirian ekonomi melalui kegiatan wirausaha yang membentuk seorang pengusaha.

Analisa dan Tren Usaha Ternak Kambing
Peternakan Kambing Modern
Ilustrasi Peternakan Modern via Metrojatim.com
Salah satu pelajaran dari gembala kambing adalah kemandirian ekonomi. Bagaimana berjuang menanamkan mental seorang pekerja keras yang kemudian berkembang menjadi pengusaha. Biaca soal pengusaha tidak lepas dari wirausaha. Kebetulan bersentuhan dengan usaha mikro, maka tak lepas pula dengan analisanya termasuk usaha ternak kambing. Kadang juga sering keliru antara dagang kambing dan pembesaran bibit kambing. Sama-sama usaha kambing tetapi bebeda sektor. Dagang kambing masuk sektor perdagangan dalam analisa maka harus dihitung HPP (Harga Pokok Produksi). Sementara pembesaran kambing masuk sektor pertanian (on farm). Maka, dalam pembiayaan pun akan berbeda, dagang kambing masuk bulanan dan pertanian masuk musiman (biasanya 6 bulan sekali lunas)

Saat ini teknologi sudah semakin berkembang. Akan tetapi usaha-usaha tradisional seperti ternak, tani, penyadap nyaris ditinggalkan. Beberapa ada yang mempertankan, sebagian kecil berpikir inovatif melakukan kegiatan ternak dan tani secara modern. Bahkan ada yang telah membuat skema bisnis dengan beberapa pilihan paket. Tak perlu bingung dan ribet dalam mencarikan makan (baca : ngramban), karena telah ada riset pakan ternak hasil fermentasi jerami dan beberapa formula bahan tertentu.

Omzet hitungan secara awang-awang, dapat dikatakan lumayan. Seperti yang dicontohkan mas Supriyadi ( supriyadi-teknologi.blogspot.com ) budidaya kambing bisa untung lebih dari 100%. Hitungan sederhananya. Dengan modal 10 juta kita dapat membeli 1 jantan dan 10 betina. Dalam setahun beranak satu kali, kalo rata-rata beranak kembar 2 maka jumlah anaknya 20 ekor dengan umur 5-7 bulan. Harga anak 500-700 ribu maka kita mendapatkan 10-14 juta dari penjualan anaknya. Di akhir tahun jantan akan naik nilainya 10-50 %  dan induknya sudah bunting lagi sekitar 3-4 bulan bila induknya kita jual dalam keadaan bunting maka harganya akan naik 10-40%, jadi dari harga awal 10 juta bisa jadi 11-14 juta. Bila kita memerah susunya kita akan mendapatkan 100-600 liter susu. Bila harga dipasaran 10 – 40 ribu/liter tergantung lokasi dan teknik menjual. Kita dapat 1 – 6 juta dari susu untuk harga terendah dan 4-24 juta untuk harga tertinggi. Bila kita mau mengolah kotoran/ feses dan urine nya kita juga bisa menjualnya. Jadi dalam setahun dengan harga minimal dari modal 10 juta, modal kita di akhir tahun menjadi 22 juta. Bila kita beruntung mendapat harga tinggi dan produksi maksimal maka modal kita menjadi 34-52 juta. Jadi keuntungan setahun 120% - 420%/tahun. Hitungan kasar untuk merintis maka perlu dianggarkan biaya pembuatan kandang, biaya pakan, biaya tenaga kerja. Mengacu pada contoh maka, anggaplah keuntungan dikurang 50% (untuk alokasi biaya-biaya), atau jika tidak, dengan modal yang sama tetapi dengan jumlah kambing 1 jantang dan 6 betina. Di tulisan berikutnya mungkin akan dibahas kupas tuntas ternak kambing secara modern mulai dari persiapan kandang, desain multifungsi, perawatan, pakan, hingga produktifitasnya, termasuk analisa bisnis dan pasarnya.

Sebuah Harapan Tersembunyi
Bayangan masa kecil sungguh indah, bagaimana garis tawa di bibir tanpa adanya beban yang tergambar sebagai kerutan di dahi. Bagaimana bersenda gurau dan bercengkrama dengan hewan ternak yang dikenal sebagai kambing. Berbagai hikmah dari sirah nabawi selama menjalani proses pembelajaran mengandung banyak makna mengenai ternak kambing. Era modernisasi saat ini menuntut inovasi yang mengedepankan kearifan lokal juga tidak mengenyampingkan tujuan bisnis dan program negara dalam penciptaan lapangan pekerjaan menciptakan sebuah harapan yang tidak semua orang tahu. Ya "Ternak Kambing". :-D

Karena yakin sama percaya itu beda

7 comments

Anak kecilnya mirip sama teman SMA ku, haha

Oy silahkan kang, semoga bermanfaat...

siapa ya?yang jelas suka naik gunung, suka pisang goreng, suka sama yang bikin suka dengan Gunung Rinjani..entah siapa "cowok" inspiratif itu, masih bertanya2 dalam hati, wkwk

Kayaknya kenal deh, padahal ya, klo inget dia pas SMA, pling takut sma keg palma aplagi naik gunung, mna brani dia ikutan, gda nyali tuh. Kalo sedikit mmbayangkan dia berpwakan kurus berkacamata, pke baju kegedean sampe dbilang jaz lab, kdg suka bwa bku gede entah dbca ato ga, suka ngutak-ngatik yg nmany komputer (prgkat lunak). Bahkn saat mnjelang lulus ada yg bilang mirip dg guru baru yg kbtulan jg ska bidang kmputer gt...

Dari hasil analisis regresi linier dan dengan memperhatikan pengaruh x terhadap y bisa disimpulkan bahwa namanya adalah Eko Sudarmakiyanto, haha

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon