Sunday, February 01, 2015

Mungkin Hidup Itu Hanya Menjawab Pertanyaan

Pertanyaan adalah sebuah ekspresi keingintahuan seseorang akan sebuah informasi yang dituangkan dalam sebuah kalimat tanya Pertanyaan biasa akan diakhiri dengan sebuah tanda tanya. Segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan tak terkecuali juga dengan sebuah pertanyaan. Pasangan untuk sebuah pertanyaan adalah mungkin sebuah boleh jadi beberapa jawaban. Pertanyaan saja memiliki jodoh (jawaban) apalagi manusia ya. :-D

Sejak diciptakannya manusia pun pertanyaan sudah muncul terlebih dahulu. Masih ingat pelajaran agama Islam jaman duduk di sekolah dasar? Sewaktu Allah hendak menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi, Allah sudah ditodong dengan sebuah pertanyaan (baca: protes) oleh malaikat. Padahal malaikat adalah makhluk yang paling taat dan patuh terhadap segala apa yang diperintahkan atau keputusan Allah. Kurang lebih seperti ini petikan ceritannya :
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (Albaqarah: 30)
Allah pun menjawab “protes” para malaikat dengan kalimat “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Disini kita bisa melihat bahwa Allah lah sang perencana segalanya, Allah lah sang maha pencipta yang paling mengetahui ciptaannya. Ada "sesuatu" dibalik skenario yang dibuat Allah. Pasti ada sejuta hikmah dari jawaban Allah tersebut.

Pertanyaan Sebelum Lahir
Sejak belum lahir pun sudah muncul pertanyaan dari orang tua terhadap si janin di dalam rahim ibu. Percaya atau tidak? Kebanyakan orang tua, biasanya si bapak ngelus-ngelus perut si ibu sambil berbisik, "Wahai anakku, kira-kira kamu itu cowok atau cewek ya? Kalo cowok, bla bla bla... kalo cewek, bla bla bla..."

Saya bilang biasanya loh ya, karena saya tidak paham secara pasti, karena belum mengalami jadi peran si bapak. Kalo si janin si pernah, tapi mana ingat, hehe :-D. Mungkin jika si janin bisa angkat bicara bisa memberikan jawaban kali ya, "Ya mana saya tahu bapak, bentuk aja belum sempurna, tanya aja sama Allah bapak!" hehe :-D.

Edisi Pertanyaan Berlevel
Kadang pertanyaan yang diajukan  kepada kita menunjukkan dimana posisi kita berada. Coba deh direnungkan kembali. Saat jaman duduk sekolah dasar, ditanya,"Kapan ujian catur wulan pertama", "Kapan ujian nasional?". Kalo lulus SD, SMP, SMA jarang lah ditanya,"Kapan Lulus?" bahkan tidak hampir tidak pernah deh. Tapi ada sebuah pertanyaan yang jadi permulaan rasa takut terhadap sesuatu (baca: fobia). Kalau periksa ke dokter eh psikolog mungkin namanya penyakit question phobia kali ya. Itu semacam sindrom salah tingkah atau sikap apositif (sangat sensitif) jika diajukan sebuah pertanyaan tertentu (versi eko sudarmakiyanto). Permulaan fobia itu,"Mau lanjut kemana?" Kita tahu kan posisi pihak yang diajukan pertanyaan. Jawab dalam hati masing-masing, karena setiap orang mungkin mempunyai jawaban yang berbeda tergantung situasi dan kondisi saat diajukannya pertanyaan.

Fobia Pertanyaan Ini?
Saya tidak akan memberikan contoh yang belum saya alami. Khawatirnya akan membuat tulisan menjadi kehilangan kadar kebenarannya karena belum teruji. Berdasarkan pengalaman, ada beberapa pertanyaan yang jika diajukan langsunglah kita mengkerinyitkan dahi. Apa saja itu? Mungkin jika didaftar semua pertanyaan, sungguh banyak hingga halaman blog ini tak muat, sehingga hanya beberapa saja. Didaftar berdasarkan intensitas kemunculannya :-D

Sekarang BAB berapa? Pertanyaan ini seketika berubah menjadi semacam virus yang menyerang pikiran ketika kita sedang berperang dengan makhluk yang namanya tugas akhir (baca: skripsi). Dampaknya si tidak terlalu bahaya, paling hanya sebatas garuk-garuk kepala dan dijawab "Bablas", selanjutnya ada dampak lanjutan. Bagi si semangat kadang menyebabkan insomnia untuk menuntaskan bab demi bab, kadang beberapa yang lebay pasang foto keluarga kadang pasang foto topi toga, atau cari meme unik tentang skripsi sebagai pendongkrak semangat. Kalo yang alim si langsung bangun di sepertiga malam dan langsung curhat minta petunjuk untuk menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan itu. Akan tetapi bagi si moody langsung muncul gambar bohlam menyala di atas kepala untuk mendaftar objek-objek yang menarik untuk dikunjungi (baca: refreshing).

Kapan Wisuda? Pertanyaan ini tidak begitu sensitif bagi mahasiswa yang "normal". Namun, bagi yang abnormal ini menjadi semacam pertanyaan yang sedikit sakral. Terlebih yang abnormalnya over, tentu langsung berpose menunjuk dada sambil nyetel lagu nya mbak Cita Citata yang judulnya Sakitnya Tuh di Sini. Lagunya tidak cocok ya, harusnya Koboi Kampus yang dinyanyikan oleh the panas dalam. Kalau yang ini dampaknya bukan lagi insomnia, bisa-bisa menjadi pendiam seperti gejala hipotermia. Kadang duduk di kucingan (angkringan), duduk menyendiri dengan tatapan mata kosong, seolah melihat banyangan keramaian teman-teman seangkatan. Namun, ini masih mending, di banding pertanyaan di bawah ini?

Kapan Kerja? Sebuah pertanyaan yang menjadi dramatis terlebih backsoundnya lagunya bang Iwan yang judulnya Sarjana Muda. Mungkin jika ditanya teman-teman masih bisa diatasi, akan tetapi jika yang bertanya itu para tetangga, maka pertanyaan ini benar-benar menjadi dramatis. Dampaknya membuat tidak betah berlama-lama di rumah. Mending keluar untuk "main" daripada kerja di rumah terus (baca: bantu cuci piring, nyapu, dll). Dosis dampak dari pertanyaan ini bertambah seiring dengan bertambahnya waktu. Bulan pertama boleh saja senyum-senyum, sering bermain dengan teman-teman. Bulan kedua, sedikit risih. Bulan ketiga, sedikit sakit. Bulan keempat nyaris membisu. Bulan selanjutnya saya tidak bisa cerita mending nunggu ngalami sendiri. Karena itu pun masih mending dibanding pertanyaan setelahnya.

Pertanyaan selanjutnya bisa dibilang sungguh keramat itu seperti ini :

Pertanayaan paling keramat saat ini
Pokoknya jika ada yang bertanya seperti itu tak jawab, "hanya Allah yang tahu" !!! -_-
Namun, kalau "kamu" yang tanya, tak balik  tanya saja deh, " kamu maunya kapan?" :-D

Masih menunggu skenario terindah dari Allah. Karena saya saya tahu Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Allah lebih mengerti apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Pertanyaan Masih Berlanjut
Ketika masih hidup lantaran ditanya dengan sebuah pertanyaan saja bagai beban berat dipundak. Seolah menjadi sesuatu yang membuat kita tertekan. Kira-kira ada yang tanya, " Kapan mati?" tidak ya :-D.
Bahkan setelah mati pun masih ditanya, " Man Rabbuka", hingga dipertanyakan shalat kita, amalan kita. Itulah pertanyaan. Suka tidak suka, mau tidak mau, harus dijalani harus dinikmati dan tentunya dicari jawabannya dalam bentuk Ikhtiar. Seperti apa bentuk ikhtiarnya? Ya misal pejuang skripsi, tetap semangat mencari dan memahami referensi, sabar dan menghormati pembimbing skripsi. Para pencari kerja, sambil mencari-cari bisa asah skill, mencuri ilmu dari para pendahulu. Dan yang menanti kehadiran Sang Bidadari, teruslah memantaskan diri. Seperti apa memantaskan diri relatif bagi masing-masing orang, pada intinya tambahlah yang baik-baik, kurangi yang buruk-buruk. ^_^

Karena yakin sama percaya itu beda

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon