Saturday, February 21, 2015

Sebuah Kehidupan Baru Setelah Wisuda

Wisuda Tri Idiot Cilacap (sahabat-sahabat terbaik)
dari kiri ke kanan : Didin Solihin, Eko Sudarmakiyanto, Imam Aris Munandar
Kapan Wisuda? Salah satu dari gerombolan pertanyaan yang kerap kali muncul menyerang mahasiswa tingkat akhir, sang calon sarjana. Serangan yang dilontarkan orang tua, saudara, teman-teman atau mungkin "seseorang". Jawabannya, adalah harapan bagi para mahasiswa tingkat akhir. Sebuah terminal tujuan setelah berhasil berjuang merangkai kata demi kata, petak umpet dengan dosen pembimbing, berkawan dengan referensi juga tumpukan kertas recycle, bersabar dengan data, mungkin juga sempat terguling dan jatuh sakit demi makhluk yang namanya tugas akhir (baca: skripsi). 

Wisuda itu...
Wisuda adalah hari dimana mahasiswa resmi dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan gelar berdasarkan keilmuan masing-masing melalui sebuah upacara pelantikan yang berlangsung khidmat. Acara yang membuat deg degan bagi kebanyakan calon sarjana. Berbagai persiapan dan kerempongan pun dilakukan seolah hendak melakukan perjalanan jauh guna memastikan segalanya berjalan sempurna. Terlebih yang cewek, mulai dari pakian hingga tata rias (make-up) sudah dipersiapan begitu gasik. Para petinggi kampus pun bersemangat hadir bersama para pembantunya, dan sejumlah undangan. Para calon sarjana duduk rapi memenuhi ruangan sesuai dengan nomor kelulusannya. Orang tua/ wali yang selama ini memberikan dukungan moral dan moril dari kampung halaman yang begitu jauh, juga tidak ketinggalan hadir untuk menyaksikan hari yang begitu bersejarah bagi buah hatinya yang sebentar lagi menjadi sarjana. Sarjana? Iya Sarjana !

Satu per satu nama dipanggil ke atas panggung sambil dibacakan predikat yang diraih selama bertahun-tahun menjalani proses kuliah. Tali toga yang semula di sebelah kiri akan dipindahkan ke kanan oleh rektor/ ketua. Pertanda bahwa teori yang sudah numpuk banyak di memori mahasiswa agar segera diimplementasikan di dunia nyata. Selesai memindahkan tali, biasanya akan menerima seperangkat ijazah dan transkrip nilai, jika tidak berarti untuk jaminan pengembalian baju toga (bagi yang sifatnya sewa). Diberi juga sebuah cinderamata, berupa plakat berbentuk wisudawan dan tertulis nama dan gelar kita termasuk tanggal wisuda.

Foto bersama setelah prosesi wisuda selesai
Setelah prosesi selesai, berbagai ekpresi dapat ditemukan, isak tangis haru, bahagia, bangga, sedih, bercampur jadi satu di dalam ruangan yang dipenuhi jutaan pasang mata. Rangkaian bunga, buket, bingkisan hingga berbagai ucapan selamat dan sukses bertebaran di dalam dan sekeliling ruangan wisuda. Ada yang mendokumentasikan dalam video, foto bersama, dan yang lagi tren adalah selfie bersama kawan-kawan, keluarga dan beberapa dosen, dosen berjiwa muda yang gaul (katanya) dan tentunya "seseorang" (jika ada). Hari itu seolah beban skripsi telah resmi lepas, ya resmi bercerai. Tidak lagi disibukkan dengan metode penelitian, data, dosen killer (mungkin), atau aplikasi statistik yang entah tak paham bagamaina cara kerjanya dan ujung-unjung menggunakan jasa orang lain. Bagitu juga yang belum berhasil (bukan gagal loh ya) berkali-kali di sidang skripsi. Belum lagi bayang-bayang panasnya ujian pendadaran dengan suasana yang begitu mencekam. Lupakan, ya hari itu canda dan tawa para sarjana baru begitu lepas, senyumannya juga sungguh manis. Ucapan syukur dan sujud syukur pun secara spontan dilakukan bagi beberapa orang, sebagai bentuk terima kasih atas kemudahan dan kelancaran selama menjalani proses penempaan di bangku kuliah. Doa-doa agar menjadi "kebarokahan" dan "kebaikan"  pun satu demi satu terlempar ke langit.

Sehari Setelah Wisuda
Bisa dibilang, hari ini hari terasa begitu nyata. Biasanya bisa begadang semalaman bersama kopi, tidur pagi, bangun siang, makan, tidur lagi. Lebih menghidupkan suasana dengan backsound dari Mbah Surip yang judulnya Bangun Tidur. Sembahyang saja hingga dirapel-rapel, bahkan ada yang lupa atau malah sengaja dilupakan. Ah tidak, positif saja, masa berjuang lagi dekat-dekatnya dengan-Nya tidak pernah sedikit pun lupa bersujud dan menengadahkan tangan curhat dan pada akhirnya meminta sesuatu pada yang di atas.

Hari ini? Ada yang kaget, seolah beban hari ini begitu berat. Sebelumnya bisa main kluyuran kemana-mana alih-alih refreshing biar tidak stress garap skripsi. Hari ini beban terasa lebih berat rupanya, ya ketambahan beberapa huruf di belakang nama kita. Huruf itu bukan sekedar dicantumkan/ ditempelkan dengan bangga di belakang nama kita. Itu menuntut kita untuk berkarya ikut membangun bangsa, ya mencapai tujuan negara kita. Haha, terlalu melebih-lebihkan ya? Senyum kemarin tak semanis hari ini? Oh Tidak, meski senyummu hari ini tak semanis kemarin. Namun, kamu tetap manis kok. Uyee. Iya kamu yang mempunyai semangat baru, semangat untuk terus maju. Entah yang mau menciptakan kerja, mencari kerja, atau melanjutkan studi, atau bahkan berkarya di kegiatan sosial.

Hingga kita tahu arti sebenarnya wisuda, bukanlah seremoni kebahagiaan semata melainkan gerbang liar nan luas bisa dibilang gerbang menuju hutan rimba dimana seleksi alam pun akan terjadi. Kita akan paham, ada yang sportif, ada pula yang menggunakan cara-cara yang menurut kita keliru. Kita hanya bisa diam, karena telah menjadi kewajaran umum yang salah kaprah. Be positive thingking aja deh bro. Orang baik akan menemukan kebaikan juga kok, hanya saja seperti apa jalannya yang belum tahu.

Kehidupan Berikutnya
Hari berganti hari, minggu demi minggu terus berlalu, bulan bulan pun terus bergantian. Ada yang penasaran tanya kabar sana-sini. Ada pula yang tak berani tanya, bahkan meng-off-kan seluruh akun sosial media. Menghilang tanpa kabar. Banyak juga rupanya yang galau, hingga terus-terusan berkeluh kesah. Tulisan dalam status sosial media pun berubah kelabu dengan emoticon yang kelihatan sedih gitu. Katanya menjiwai isi tulisan statusnya. Hingga, orang tahu posisi seseorang hanya dengan melihat keluhannya terus berulang dengan intensitas tinggi muncul di sosial media.

Jobseeker vs Pengangguran
Jadi tahu kan, ternyata banyak job seeker. Tidak sedikit berkeluh kesah soal gelar baru. Bukan gelar dalam namanya, tapi gelar keadaannya. Sebut saja gelar, "Pengangguran". Tulisan ini pun terinspirasi status salah seorang teman. Jadi semacam ingin memberikan komentar, akan tetapi melalui tulisan. Bagaimana tidak dikata-katain pengangguranm kalau statusnya mengeluhkan pengangguran. Ya otomatis, yang pada awalnya tidak tahu jadi tahu.  Makanya, sejak hari wisuda aku tidak pernah pasang foto wisuda. Bukan karena takut sekarang dibilang pengangguran, tetapi menjaga perasaan. Masih ada kawan yang berjuang. Beberapa lihat foto teman bisa tambah semangat, tetapi ada juga yang malah jadi nglokro.

Pengangguran itu...
Membaca definisi dari wikipedia sambil berkaca diri, Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.

Wah, yang tidak enak itu di kalimat bagian akhirnya. Cukup ekstrim juga ya. Entah apa motivasi teman-teman mencari kerja, baik itu soal status, nama baik, perasaan, cita-cita, tuntutan ekonomi (kebutuhan), pada intinya menganggur bukanlah kondisi yang diharapkan. Pengangguran menjadi sebuah status yang begitu anti banget, buruk dan memalukan. Kemudian sebuah lagu dari Bang Iwan, seolah menjadi gambaran ini loh aku
Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Tak berguna ijasahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Sia-sia semuanya
Setengah putus asa dia berucap
"maaf ibu…"
Kondisi menganggur memang tidak diharapkan terlebih dalam waktu yang cukup lama. Akan tetapi kondisi pengangguran pun tak bisa salahkan (masih dimaklumi). Jadi, jangan malu soal kata pengangguran. Ini hanya soal nasib. Bahkan ini pun masih jadi PR (baca: pekerjaan rumah? bagi pemerintah, karena masih harus ditelaah antara sistem pendidikan dengan intergrasinya di dunia kerja.

Jadi teringat pada sebuah film, "Alangkah Lucunya (Negeri Ini)", negeri pencopet,  garapan sutradara Deddy Mizwar. Film ini menjadi inspirasi untuk peka terhadap kondisi kekinian yang terjadi di lingkungan  kita. Selain itu, memberikan pesan juga bagi kita sebagai pemuda tentang tanggungjawab moral dalam hal ini untuk lebih kreatif mencari cara mengatasi permasalahan di Indonesia ini.

Kita akan paham bahwa jalan takdir (nasib) setiap orang itu berbeda. Ada yang kelihatannya mudah, ada yang merasa begitu berat dan penuh rintangan. Kita tidak tahu apakah orang yang baru lulus dan langsung kerja juga tidak ada masalah? Siapa yang tahu. Kadang memperoleh kerja baru pun seperti wisuda. Masuk lagi dalam rintangan dan masalah lain yang lebih pelik dan sensitif. Sering dari kita lebih senang membanding-bandingkan  diri dengan orang lain, membandingkan dengan waktu. Ini soal jalan hidup bro! Selama kita punya tujuan, selama kita punya Tuhan sebagai jawaban atas semua pertanyaan. Apa lagi yang harus kita khawatirkan. Ini hanya soal "cara" kita memandang sebuah kondisi atau masalah.

Tantangan atau Beban?
Baik yang belum ataupun sudah dipertemukan oleh Allah dengan pekerjaan. Saya yakin masalah dan beban mental itu ada.  Seperti yang tadi dikatakan, hanya soal "cara" memandang/ anggapan. Banyak orang galau, gelisah, resah, bahkan frustasi dan apapun itu namanya, sebenarnya karena penjara pikiran kita sendiri. Seperti kata Om Tere Liye :
“Sembilan dari sepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita. Dibuat-buat sendiri. Dibesar-besarkan sendiri. Nyatanya seperti itu? Boleh jadi tidak.”
― Tere Liye, Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah
Sebenarnya kenyataan itu tidak serumit, seberat, dan seheboh seperti apa yang kita pikirkan bro !

Ingat bro, kata orang bijak :
Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang telah anda raih, namun kegagalan yang telah anda hadapi, dan keberanian yang membuat anda tetap berjuang melawan rintangan yang bertubi-tubi.

Apa yang anda raih sekarang adalah hasil dari usaha-usaha kecil yang anda lakukan terus menerus. Keberhasilan bukan sesuatu yang turun begitu saja. Bila anda yakin pada tujuan dan jalan anda, maka anda harus memiliki ketekunan untuk berusaha. Ketekunan adalah kemampuan anda untuk bertahan di tengah tekanan yang dan kesulitan. Jangan hanya berhenti pada langkah pertama!

Yang memisahkan perahu dengan pantai harapan adalah topan badai, gelombang dan batu karang. Yang memisahkan anda dengan keberhasilan adalah msalah yang menantang. Disitulah tanda kesejatian teruji. Hakikatnya perahu adalah berlayar menembus segala rintangan. Hakikat diri anda adalah berkarya menemukan kebahagiaan.

Ini Beban?
Ada tulisan dari blog lama, yang pernah di repost :
Kenapa Aku Diuji?
Surah Al-Ankabut ayat 2-3
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang
yang dusta. “

Kenapa Aku tidak Mendapatkan Apa yang Aku Idam-idamkan?
Surah Al-Baqarah ayat 216
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Kenapa Ujian Seberat Ini?
Surah Al-Baqarah ayat 286
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Rasa Frustasi?
Surah Al-Imran ayat 139
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

Bagaimana Aku Harus Menghadapinya?
Surah Al-Imran ayat 200
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah
supaya kamu beruntung.”
Surah Al-Baqarah ayat 45
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”

Apa yang Aku Dapat Dari Semua Ini?
Surah At-Taubah ayat 111
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”

Kepada Siapa Aku Berharap?
Surah At-Taubah ayat 129
“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal “

Aku Tak Dapat Bertahan Lagi!!!!!
Surah Yusuf ayat 87
“..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. “
Ingat Surah An-Nisaa’ ayat 86
“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allahmemperhitungkan segala sesuatu.”

Ini Tantangan !
Keluh kesah boleh lah untuk melegakan. Paling tidak kita paham tempat berkeluh yang seharusnya. Adanya keluhan semestinya perlu introspeksi juga bagaimana alur usaha kita. Dalam Islam pun sudah diberi pencerahan, alur berkarya adalah tawakal. Tawakal bukan asal tawakal. Tawakal yang berisi energi positif dengan serangkaian niat, usaha (ikhtiar), doa, juga dilandasi pikiran dan prasangka positif.

Kondisi belum atau sudah memperoleh kerja, tetap nantinya akan menghadapi masalah. Jadi, pertanyaannya adalah apakah kita yang kalah oleh masalah atau masalah yang bisa dikelola kita, bukan dihindari juga ya. Kemudian, bagaimana kita meluruskan pemahaman pola pikir kita terhadap masalah. Kita harus berpikir dan Yakin Bisa!!! Jadi jangan kalah sebelum berperang ya.
“Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua”
― Pramoedya Ananta Toer
Jika ditarik benang merahnya, ini soal keberanian mengambil keputusan. Ya keputusan mengambil resiko yang bakal dihadapi. Kehidupan sesungguhnya adalah penuh dengan berbagai resiko.

Dalam hidup nyata, dan dalam perjuangan yang tak mudah, kita bukan tokoh dalam dongeng dan mitos, yang gagah berani dan penuh sifat kepahlawanan. Kita yang bukan tokoh mitos yang punya anak istri dan keluarga, mengenal rasa takut. Tapi bahwa meskipun takut kita jalan terus dan berani melompati pagar batas kekuatan tadi, mungkin disitu harga kita ditetapkan.
― Gusdur
 Be Positif dengan Allah
Sebuah kehidupan baru setelah wisuda, artinya keputusan yang kita ambil bukan lagi tergantung pada pihak lain seperti orang tua misalnya. Meminta saran dan pertimbangan boleh, keputusan tetap di tangan kita. Sekarang kita sudah "dianggap" sebagai orang dewasa terlebih dengan gelar yang mengikuti di belakang nama kita. Artinya harus ada PERUBAHAN POLA PIKIR, sehingga penuh pertimbangan dan keputusan yang diambil lebih bijak.

Apa sih yang membuat kita bingung? Pada intinya kita tidak punya TUJUAN tidak punya RENCANA. Orang bijak bilang gagal dalam merencakan sama artinya merencanakan kegagalan. Jika kita punya tujuan semestinya kita akan berusaha mencapai tujuan itu sesuai dengan rencana yang dibuat. Kalau pun rencana belum berhasil dan tujuan belum dapat diraih itu bukan PENGANGGURAN, artinya masih BERJUANG.

Apapun kondisi kita, seperti apapun masalah kita. Selama kita MEMILIKI TUHAN. Selalu menbghadirkan-Nya dalam setiap hembusan nafas kita, dalam setiap langkah kita. Insya Allah kita menjadi pribadi yang senantiasa POSITIF. Positif pikirannya, positif hatinya, positif tindakannya, dan positif hasilnya. Dan jika kita mengganggap itu negatif maka yakin ada hal positif dibaliknya yang bisa dipetik (baca: hikmah). Ini akan memacu untuk terus mempunyai semangat positif. Semangat dalam KESUNGGUHAN dan KESABARAN.

Man Jadda Wa Jadda, Man Shabara Zhafira
( Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkannya, siapa yang bersabar akan beruntung )

Bersabar, seperti lagu regge dari Monkey Boots, yang judulnya "Semua Indah pada Waktunya".
Boleh lah memotivasi diri, walau bentuknya sekedar stiker. Ada stiker yang selalu tertempel di laptop saya, bahkan masuk di motto skripsi. Isi kata-katanya sederhana akan tetapi menginspirasi bahkan hingga sekarang.

S2 :  SABAR DAN SYUKUR CARA SUKSES MENJALANI HIDUP

Karena yakin sama percaya itu beda

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon