Saturday, February 07, 2015

Tulisan Sampah?

Tulisan sungguh dekat dengan kita, bahkan bisa dibilang tiada hari tanpa tulisan. Tulisan menjadi hal biasa bagi kebanyakan orang di dunia ini, akan tetapi menjadi suatu cita-cita dan harapan yang entah bercampur putus asa atau pasrah bagi mereka yang kurang dalam penglihatan. Sebab tulisan, kita harus bersyukur terhadap karunia Tuhan kepada kita berupa indera penglihatan. Tanpanya, bagaimana mungkin huruf alfabet dan deretan angka yang melekat pada seutas kulit kayu membuat kita haru, gembira, sedih, kadang senyum-senyum sendiri, atau mungkin guling-guling sambil mringis, dsb. 

Seperti manusia, kadang tulisan tak bernasib mujur. Ada yang dijadikan idola, ada yang biasa-biasa saja, ada yang tidak disukai, ada pula yang sampai disebut sampah. Tulisan hanyalah kumpulan huruf atau angka yang dituliskan dalam bahasa tertentu. Sementara sampah dapat diartikan sebagai material sisa yang "tidak diinginkan" setelah berakhirnya suatu proses. 

Pertanyaan selanjutnya seperti apa tulisan sampah? Salah siapa hingga tulisan dicap sebagai sampah. Sebenarnya ini jarang dipertanyakan apalagi diujikan dalam ujian nasional. Namun, karena ada salah seorang kawan, mbak Admi Susilowati ( pemilik blog admi1992.wordpress.com ) yang mengutarakan ketidaksukaannya mengenai sebutan "tulisan sampah", jadi saya mencoba meringkas beberapa penjelasan. Saya mengerti dengan ketidaksukaannya dan sebenarnya saya pun mengiyakan ketidaksuakaannya. Seperti sebutan anak haram bukan? apakah yang salah anaknya, hingga dicap haram. Atau mungkin orang tuanya yang salah. Tidak juga, karena yang salah itu perbuatan orang tuanya hingga dicaplah anak yang tak berdosa bahkan sama sekali tidak mengerti arti haram dicap sebagai haram. Lantas bagaimana dengan tulisan? Bisa dibilang bukan salah tulisannya atau salah penulisnya. Akan tetapi cara penulis menghasilkan tulisan.

Saya mengaku salah, ikut menyebut "tulisan sampah", tetapi bukan tanpa alasan juga ikut menyebutnya demikian. Untuk itu, saya mencoba menelusuri bagaimana tulisan bisa disebut sampah. Pada dasarnya hanya soal perspektif dan subjektifitas. Inilah alasan tulisan dicap sebagai tulisan sampah versi Eko Sudarmakiyanto. Beberapa alasan itu antara lain seperti sebab haram :

Karena Sumbernya
Secara umum sumber menulis sebuah tulisan adalah inspirasi. Inspirasi adalah bagaimana mengsingkronkan antara hati dan otak. Jika keduanya  terhubung, diimbangi dengan jam terbang yang memadai saya rasa bisa menghasilkan sebuah tulisan yang menakjubkan. Idealnya tulisan itu sistematis ditulis berdasarkan pemikiran yang mendalam dengan otak, dan disentuh dengan rasa menggunakan hati. Maka, tulisan ini akan mempunyai jiwa yang seolah hidup mempengaruhi pikiran dan batin kita. Banyak ditemui saat kita membaca yang namanya novel, atau catatan perjalanan seseorang ke suatu tempat. Seolah kita masuk di dalam suasana tulisan tersebut.

Akan tetapi berbeda kondisi jika hanya menggunakan salah satunya. Misal hanya menggunakan otak, maka tulisan akan terasa kaku dan memusingkan. Tulisan ini dapat kita jumpai saat membaca buku teks atau yang lebih tren adalah membaca jurnal. Itulah buah pikiran alias hasil kerja si otak terutama otak kiri. Membacanya saja sudah pusing tujuh keliling, apalagi diminta untuk menulis bisa butuh puyer bintang tujuh.

Lain halnya jika hanya menggunakan hati. Kita tahu Tuhan adalah Maha yang membolak balikan isi hati makhluknya. Tentu akan berdampak pula pada tulisannya. Tidak semua demikian si, tetapi kebanyakan ya seperti itu. Inilah yang kadang membuat tulisan hari ini yang kita tulis begitu indah, akan tetapi suatu saat berubah menjadi sampah "yang tidak diinginkan". Bahkan dihapus pun masih belum menghilangkan bekasnya (baca: ingatan). Hingga munculah kalimat negatif yang berbunyi, "Kalau tahu begini, saya tidak akan menulis tulisan ini". Tulisan itu mau dihapus, ditinggalkan, atau diganti itu pilihan. Namun kata Raditya Dika, 
Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. Kalau pindah diidentikkan dengan kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang mengikutinya..... Padahal, untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan.
Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.
Bagaimana dengan tulisan juga sama. Mungkin dengan menggunakan hati, kita menulis begitu lancar. Berjuta-juta bait syair dan untaian kata indah dalam puisi terangkai, beratus-ratus paragraf pun terbentuk. Akan tetapi tidak dipikirkan bagaimana esok. Maka saatnya pindah dari tulisan yang membuat galau ke tulisan yang membuat semangat. Jadi, sumber yang tepat adalah sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dipikirkan akan tetapi tidak menghilangkan rasa (idealnya). Dan saya pun masih belajar :-D

Karena Caranya
Tidak ada cara yang salah dalam menulis sebuah tulisan kecuali mencontek atau menjiplak alias copas (copy paste) apalagi tanpa seijin dari penulis asli. Jadi ini yang saya maksud tulisan sampah. Tulisannya tidak salah, akan tetapi yang salah adalah orang yang menjiplak. Saya akui saya pernah salah karena melakukan hal ini terlebih di media yang terpublikasi di internet (baca: blog). 

Hal yang kerap dijumpai adalah saat bimbingan tugas akhir. Tidak sedikit kawan-kawan yang ditunjuk-tunjuk bapak ibu dosen dengan nada suara yang tinggi sambil menyebut, " Ini sampah semua !!!". Bagaimana tidak, semua tulisan tinggal di copy  dan dipaste tanpa proses editing.  Paling tidak direproduksilah atau istilahnya parafrase. Istilah di dunia enterpreneurnya adalah ATM (Amati Tiru Modifikasi). Jadi, idealnya tulisan itu ditulis sendiri bagaimanapun hasilnya, tetapi jika belum yakin dengan ide sendiri, bisa cari referensi dibaca kemudian diolah lagi kalimatnya dengan kata-kata atau gaya bahasa sendiri.

Karena Tujuannya
Tulisan yang manis ternyata bisa saja menjelma menjadi sampah manakala tujuannya adalah untuk memprovokasi, menghasut, atau merugikan pihak lain. Tulisan seperti ini dapat kita jumpai di media-media masa. Tulisan yang umum dibaca dengan begitu lugas dan ringan, mudah dipahami, tetapi tanpa disadari membuat kita benci pada suatu pihak. Jadi tulisan yang bertujuan untuk menciptakan kehancuran dan menebar keburukan maka dikategorikan sebagai tulisan sampah.

Bagaimana Memperlakukan Tulisan Sampah?
Sampah, apapun bentuknya ya buanglah pada tempatnya, jangan dibuang sembarangan. Setelah ditaruh pada tempatnya, nantinya dapat dibuang (Reduce), digunakan kembali (Reuse), atau didaur ulang (Recycle). Sehingga muncul slogan, "dulu sampah, sekarang berkah". Begitu juga dengan tulisan. Itulah alasan saya pindah ke blog ini dimana semua tulisan hampir semua hasil olah pikiran sendiri. Sementara dengan tulisan di blog lama, ada yang saya hapus untuk tulisan-tulisan yang saya anggap tidak pantas atau tidak memberi manfaat bagi pembacanya. Ada yang saya tinggalkan begitu saja (hasil copas) dengan harapan dapat digunakan lagi atau sebagai sumber parafrase oleh orang lain yang menemukan blog saya melalui mesin pencari google.

Yakin, Tulisan itu Sampah?
Pada dasarnya tulisan itu bukan sampah manakala muncul dari ide dan buah pikiran sendiri. Mungkin dibantu dengan pengalaman melalui indera yang dimiliki, saling diskusi atau informasi yang dititipkan teman di kepala kita. Positifnya sebutan tulisan sampah semestinya memotivasi kita (terutama saya sendiri) agar tidak asal comot tanpa diolah, tidak asal nulis tanpa pikir akibatnya, melatih menghargai "karya" agar tidak dicap sampah. Tulisan memang hanya perspektif dan subjektifitas, seperti apa dia tergantung bagaimana dan darimana kita memandangnya. Sungguh unik, karena beda kepala beda isi beda cerita beda rasa. Jadi, lebih baik tulisan itu acak adul, mungkin jika dibaca pun yang membacanya tidak paham ( baca: ambigu ), atau mungkin malah bikin pusing tetapi dibuat oleh hasil olah pikiran sendiri ketimbang tulisan begitu bagus baik secara ejaan, maupun secara jiwanya tetapi hasil "curian" tanpa modifikasi. Karena tulisan dari buah pikiran sendiri itu mahal, itulah "Karya Seni".

Karena yakin sama percaya itu beda

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon