Monday, March 16, 2015

Hingga Suatu Senja

Senja di Patimuan (c) Eko Sudarmakiyanto
Matahari terbit dan terbenam bagi sebagian besar orang adalah hal lazim. Mungkin, momen istimewa terlewat begitu saja bersama rutinitas yang bisa dikatakan sibuk tingkat dewa. Bisa jadi tingkat mahadewa. Itulah yang kini juga saya sadari.

Saya juga masih ingat ketika zaman menuntut ilmu di negeri orang (baca: Kota Semarang). Kadang, suatu waktu bersama kawan satu kos, sekamar dan sekasur, sesekali merenung. Jika dirasa-rasa, hidup itu hanya tinggal menunggu mati saja. Bagaimana tidak, tidur, makan, kuliah, pulang, makan, nongkrong, tidur lagi. Sepertinya hidup tidak bermakna sama sekali.

Alasan sederhana tetapi penting itulah yang membuat saya dan beberapa kawan nekat naik gunung. Bukan sekedar ingin menggapai puncak. Bukan pula hanya ingin melihat terbit matahari (sunrise) atau terbenamnya (sunset). Bukan juga kumpul-kumpul dan nongkrong di tempat yang lebih menantang. Lebih dari itu, kenekatan itu menyimpan tanda tanya besar di dalam hati. Untuk apa si kita hidup? 

Begitu juga saat ini. Saat-saat saya disibukkan dengan rutinitas. Ketika pergi pagi, pulang petang. Ketika yang dirasa letih lesu lemas lunglai loyo. Ketika hanya tugas, tugas,dan tugas yang ada di pikiran. Maka, kicauan burung gereja pun tak terdengar kemerduannya. Kebisingan lalu lalang kendaraan di jalan pun terlewat tanpa perhatian. Atau anak sekolah yang berangkat sekolah. Pak polisi di tengah jalan yang sedang mengatur lalu lintas.  Hingga para petani yang pulang dari sawah-sawah harapan mereka. Itu sungguh sesuatu yang lazim, bukan lagi sesuatu yang wah. Apalagi hanya matahari? Terkadang sempat keluar umpatan-umpatan ketika siang begitu terik, panasnya terlalu menyengat hingga tak lagi merasakan bagian terindah matahari.

Sore tadi, pada perjalanan pulang, setelah lelah berkeliling desa, saya berhenti di tengah jalan panjang yang diapit hamparan bulak sawah. Sekedar duduk dan istirahat melepas lelah. Ada sesuatu yang biasanya terasa biasa, tetapi ini menjadi luar biasa. Ya, keindahan kadang tak harus dicari di tempat yang jauh. Tak harus dari langit Eropa atau puncak rinjani. Ini hanya soal kesadaran dan kepekaan kita saja. Keindahan dapat di temukan dimanapun kita berada. 

Inilah pemandangan suatu sore di jalan desa, areal persawahan, Kecamatan Patimuan :

Senja di Patimuan (c) Eko Sudarmakiyanto
Senja, kadang terlewat begitu saja, begitu juga dengan eksotis dan keindahannya. Sesekali bolehlah kita mengingat-ingat, apa saja sih yang telah kita hasilkan sejak matahari terbit. Karya apa saja yang telah kita torehkan demi kemajuan bangsa ini. Bekal apa saja yang berhasil kita kumpulkan untuk bekal hari esok. Langkah apa saja yang telah kita rajut demi rangkaian masa depan. Apakah stagnan, hanya berjalan di tempat, tanpa ada perubahan?

Mengintip dari Harapan Petani (c) Eko Sudarmakiyanto
Lihatlah petani! Sejak terbit matahari telah berbondong-bondong menggarap sawah-sawah mereka. Mulai menanam bulir-bulir bibit padi, embrio kehidupan masyarakat. Harapan yang menghidupi seluruh pendudup tanpa pandang bulu. Peluh bersama rasa lelah bercucuran ikut membasahi sawah-sawah mereka. Dan hingga senja, mereka baru kembali dengan setumpuk harapan. Juga senja ini, guratan harapan mulai terlihat. Ketika bibit-bibit padi itu mulai tumbuh, berisi, dan merunduk. Senyum-seyum di bibir para petani pun begitu lepas. Sebentar lagi hamparan berwarna hijau ini akan menguning.

Terus Melaju ke Depan (c) Eko Sudarmakiyanto
Terus melaju ke depan! Bahkan hingga senja, tetaplah melaju. Mumpung, masih ada kehangatan surya yang sedang mengintip dari balik bukit. Terus melaju, di satu titik di depan sana. Belum terlambat pulang.

Kuda Besi Kawan Petualangan Desa (c) Eko Sudarmakiyanto
Hidup itu tidak sendiri. Kesendirian, kadang hanyalah soal rasa. Iya rasanya dalam kesendirian. Tidak kah kita masih mendengar sesuatu, masih bisa melihat sesuatu, dan tentu masih merasakan sesuatu. Sebenarnya kita tidak benar-benar sendiri. Masih ada kawan yang selalu setia menemani. Masih ada kawan yang selalu menginspirasi.

Itulah senja-senja kecil di Patimuan. Senja yang sebenarnya ada di depan kita. Akan kah kita benar-benar siap menghadapinya? Ketika kita sudah benar-benar lemah. Ketika rambut mulai memutih. Ketika nafas mulai dapat dihitung. Mungkin sudah tidak bisa lagi melihat keindahan dunia ini. Ya, hanya Tuhan lah tujuan kita. Setelah pergi jauh, kemana kita akan pulang? Bukankah ke rumah? :-D

Karena yakin sama percaya itu beda

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon