Sunday, March 08, 2015

Pesan untuk Sahabat : Ketika Keluar Bukan Pilihan yang Tepat

Aku coba mencari tahu soal passion dalam pekerjaan. Begitu juga perjuangan ketika "belum" menemukan passion itu. Maka, kucoba memberikan sedikit masukan. Sebelum menulis ini, aku sudah menulis curcolku dalam tulisan Nyasar, Bukan yang Diinginkan atau Mungkin Bukan yang Dituju.

Kawan, memperoleh pekerjaan itu tidaklah mudah. Ingat, perjuangannya? Harus bersabar menunggu dalam waktu yang cukup lama. Begitu lelah kesana kemari mengajukan lamaran. Mengikuti berbagai ujian (tes) bahkan hingga harus melakukan perjalanan jauh. Kadang harus merasakan sakitnya ditolak. Kadang mau tidak mau harus mendengar omongan pedas yang menyayat hati ketika dalam kursi wawancara. Setelah sekian banyaknya keberhasilan yang tertunda. Pada akhirnya Allah memberikan jawaban atas doa-doa yang selama ini kau panjatkan setiap selesai Shalat. Bahkan doa yang selalu dibatinkan ketika berada dalam keramaian senda gurau kita dan sahabat yang lain. Atau batin yang selalu berharap saat kita berada di gunung.

Kau tahu, aku tak pandai memberikan nasehat. Aku juga bukanlah motivator yang bisa memberikan semangat padamu. Aku hanya mampu mengajukan pertimbangan, demi kebaikanmu. Keputusan sepenuhnya berada di tanganmu. 

Pekerjaan dengan status kontrak bukanlah pekerjaan sekedar coba-coba dan kita bisa keluar seenaknya dengan membayar sejumlah denda. Terlebih kita masuk dalam status fresh graduate yang tentu akan menjadi tantangan lebih. Kita akan banyak melakukan kesalahan. Mungkin kita akan diomeli bos. Ketika kita mencoba lagi, dan kemudian salah lagi. Mungkin kita akan banyak tanya. Tentu ini akan membuat perasaan kita tidak enak dengan orang yang kita tanya. Kawan, ini hanya perasaan kita.

Kita belum memiliki pengalaman, itulah kelemahan kita. Justeru dengan melakukan kesalahan, itulah pengalaman untuk kita. Itu akan menjadi pelajaran berharga. Coba belajar dari kesalahan itu. Kuasai satu demi satu dengan sabar. Fokus, jalani dengan penuh keikhlasan, coba dengan semangat. Dan seperti yang biasa aku bilang, " Yakin Bisa!!!".

Katidakyakinanmu adalah masalah utamamu, kawan. Semakin kau berkata tidak bisa, tidak nyaman, seketika itu seluruh pikiranmu berisi hal yang selalu negatif. Karena alam bawah sadarmu meng-iya-kanmu. itulah yang membuatmu sulit menerima masukan yang positif. Di dalam pikiranmu lebih banyak yang negatif ketimbang positif. Bahkan ketika kau tidak yakin dengan doa yang selalu kau panjatkan pada-Nya, hatimu mu pun isinya negatif. Hanya ada emosi, kekalutan, semacam berantakan, setress atau depresi yang berlebihan. Sehingga kau terpancing untuk  membuat pilihan dalam keadaan pikiran yang begitu keruh, hanya dilandasi emosi (hawa nafsu).

Keluar dengan denda bukan solusi kawan. Itu bukanlah pilihan yang aku dukung. Jika benar itu adalah penuh kesadaran, buah keputusan dari hati yang tenang dan pikiran yang jernih. Jika pilihanmu itu karena kesadaranmu tentang passion yang lain dan kau memiliki tujuan yang layak dikejar. Atau jika pilihanmu itu karena pekerjaan yang sekarang sama sekali tidak sesuai dengan nilai-nilai yang selama ini kau pegang. Maka, aku sepenuhnya mendukungku. Keputusanmu sepenuhnya pun aku akan berusaha membantu.

Namun, jika pilihanmu itu hanya pembelaan diri dari ketidaknyamanan pikiranmu yang kalut. Atau jika pilihanmu hanya semacam emosi sesaat, bahkan karena kau "nyasar", tidak tahu arah. Jika kau benar-benar keluar pun, kau tak memiliki tujuan. Maka, jelas aku tidak memberikan rekomendasi.

Kadang, aku hanya rindu kau yang dulu. Seperti zaman berkawan dengan skripsi. Aku tahu bagaimana perjuanganmu, siang malam kau terus berusaha untuk tuntas dan total. Bahkan kau mampu bersahabat dengan dosen yang menurut teman-teman lain adalah killer. Jujur dari dirimu yang aku kagumi adalah kesabaran dan keuletanmu. Begitu juga jiwa pantang menyerahmu. Sekarang dimana itu semua?

Posisimu saat ini, sama dengan posisiku dulu. Aku benar memahami bagaimana rasanya perjuangan fresh graduate berjuang agar memahami dunia kerja. Ya dunia kerja kadang begitu kejam. Aku lebih dahulu mengalami sepertimu, aku paham bahwa dunia kerja itu tak sekejam pikiran kita. Karena hal yang sering mengusik kita bukanlah ketidakbisaan kita, tetapi kekhawatiran kita, kecemasan yang terlalu berlebihan. Aku sungguh paham seperti yang sering aku baca, 
“Sembilan dari sepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita. Dibuat-buat sendiri. Dibesar-besarkan sendiri. Nyatanya seperti itu? Boleh jadi tidak.”
- Tere Liye
Aku sempat terheran, ketika kau hendak memutuskan untuk keluar. Bukankah ini pekerjaan yang selama ini kau terus coba ingin dapatkan. Lantas, setelah masuk kenapa ingin keluar? Pertanyaan yang sering kali tidak puas terjawab dengan alasan tidak nyaman karena pikiran yang kalut (baca: mumet). Coba tenangkan dulu hatimu. Jernihkan pikiranmu. Barulah kau putuskan. Tentu setelah diistikharohkan pada-Nya. 

Menurutku, ini adalah kesempatan emas buat kita. Sebuah peluang besar untuk kita menggali ilmu dan menancapkan keahlian baru. Ini yang akan memahalkan kita, sebuah pengalaman berharga. Cara Allah menyayangi kita, agar kita lebih dewasa, lebih profesional. Mungkin, ini adalah pelajaran awal sebelum menjadi pengusaha seperti 

Bahkan jika kau tetap ingin keluar. Aku juga sama. Namun, bukan dengan cara resain, tetapi dengan kinerja selama kontrak, dan tentu aku harus memperoleh manfaat tanpa meninggalkan masalah. Paling tidak meninggalkan jejak yang baik. Mungkin ibaratnya seperti kita naik gunung, kawan. Kita naik dengan penuh perbekalan, perjalanan penuh perjuangan dengan berbagai tantangan dan rintangan. Kita akan berusaha mencapai puncak, bersama-sama. PUNCAK ITU TARGET. Setelah sampai puncak, mau ke puncak yang lain atau pulang ke rumah itu adalah pilihan. Jika baru sampai basecamp saja sudah menyerah, bagaimana kau akan melihat indahnya selama perjalanan. Tidak sayang dengan persiapan dan perbekalan yang tentu kau dapat dengan pengorbanan, baik waktu maupun materi. Ingat tidak kata Edmund Hillary asal Selandia Baru pendaki gunung pertama Gunung Everest,
It is not the mountain we conquer but ourselves.( Bukan gunung yang kita taklukkan, tetapi DIRI SENDIRI )
Aku hanya mampu mendukung yang terbaik untukmu. Hanya mampu memanjatkan doa pada-Nya atas kebaikan kita semua, terlebih kau yang sedang dirundung dilema. Semoga kau mendapat pilihan terbaik dari-Nya, bukan dari emosi sesaatmu. Semoga Allah memberikan kau petunjuk yang terbaik. Aamiin.

Karena yakin sama percaya itu beda

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon