Sunday, March 01, 2015

Sesuatu atau Mungkin Seseorang (1)

Ilustrasi Sesuatu atau Mungkin Seseorang via google images
Sesuatu, bisa dibilang sebuah kata untuk menyatakan hal yang belum tentu. Hal itu, bisa berbentuk konkrit bisa juga abstrak. Merujuk pada kata seseorang, adalah satu orang yang kita belum tahu siapa dia. Kata sesuatu dan seseorang saya rangkai menjadi kalimat seperti ini, "Sesuatu atau mungkin seseorang". Pertama saya tulis dalam sebuah video dokumentasi pendakian di Gunung Sindoro (buka video), dan yang kedua di akhir halaman siapa saya (buka halaman). Ternyata kalimat tersebut menuai banyak "pertanyaan" dan sedikit "pernyataan".  Bagi saya, kalimat itu mengandung banyak makna. Maknanya sendiri tergantung siapa yang memaknainya.

Kata kawan-kawan si, Eko itu "ambigu". Aduh, kalau bilang ambigu, jadi teringat pelajaran Bahasa Indonesia. Ambigu termasuk salah satu jenis kalimat yang kurang baik. Ada pendapat yang mengatakan kalimat yang mempunyai makna ganda yang mungkin menimbulkan kebingungan, ada juga yang berpendapat kalimat yang menimbulkan makna berbeda apabila salah diucapkan. Apapun itu, mari kita sudahi keambiguan itu. Jadi, Eko tidak ambigu ya, yang ambigu itu salah satu kalimat yang dibuat oleh Eko. :-D

Jika dan Hanya Jika
Jika dan hanya jika, sesuatu itu adalah tidak jelas, bisa dibilang sungguh abstrak, ada yang bilang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Namun, gejalanya bisa bikin gila sendiri, kadang senyum-senyum sendiri, kadang bisa membuat tidak nafsu makan, dan secara ajaib bisa membuat orang mendadak puitis. Ketidakjelasan yang mengusik hati, tetapi banyak yang tidak rela melepas kepergiannya, karena sungguh nikmat rasanya. Klik, itu dia kata kuncinya, "rasa".

Rasa itu digambarkan seperti bentuk hati berwarna merah, ada yang tua, juga ada yang muda. Sejak zaman dahulu kala, rasa itulah yang menjadi sumber sejuta ide penciptaan beragam karya seni. Ada karya seni  seperti seni sastra, seni rupa, seni musik, dan mungkin seni kuliner kali ya. Rasa yang katanya sungguh aneh tetapi nyata. Sesuai dengan penggambarannya, katanya rasa itu bersemayam di dalam hati. Jika memang benar adanya seperti itu artinya kita harus hati-hati membawa hati, jika tidak hati-hati bisa-bisa membawa luka.

Jika Sesuatu Itu Cinta
Satu hal yang menjadi tanda-tanya besar, apa sih rasa itu? Sambil nyengir-nyengir (baca: mringis), ada yang bilang (dalam hati) itu cinta. Oh luar biasa, betapa beruntungnya kau, yang memperoleh anugerah itu dari Allah. Cinta itu fitrah, karena datangnya dari Allah. Jadi kalau kita dilanda cinta kita harus ingat siapa? Harusnya si dengan siapa yang memberikannya (asal dari mana datangnya). Lagi-lagi berdalih soal kita adalah manusia yang tidak sempurna yang memiliki banyak kekurangan. Kekurangan kita adalah tidak ingat siapa yang memberikan rasa cinta itu di dalam dalam hati kita. Satu-satunya yang kita ingat adalah dia, dia, dan dia, bukan Dia, Dia, dan hanya Dia.

Jika memang benar, cinta itu di hati, maka lama-kelamaan yang kurang paham menjaganya, akan berubah menjadi semacam rasa yang terperangkap di hati. Artinya rasa itu perlu dikeluarkan. Yah, ada yang nyletuk, cinta itu harus diangkapkan. Jika tidak diungkapkan, bakal menimbulkan goncangan jiwa yang bukan main dampaknya. Bahkan melebihi gempa bumi atau tsunami. Selanjutnya kita akan tahu, apakah cinta itu baik atau buruk. Seperti tulisan, yang tempo dulu pernah saya tulis, menjadi baik atau tidak tulisan  itu tidak salah, tulisan tetap baik. Begitu pun dengan cinta, cinta itu sungguh baik karena memang fitrah dan anugerah dari-Nya. Cinta itu sungguh suci. Cinta menjadi dipandang buruknya karena soal cara mengungkapkannya dan juga akibatnya.

Jika Cinta itu Virus Merah Jambu
Duh, sungguh kasihan dengan cinta. Begitu imutnya dengan warna merah jambu. Ehh, malah dikatain virus. Ini ulah oknum. Cinta yang pada mulanya begitu imut memberikan semacam kekuatan (energi) , berubah menjadi virus. Padahal virus itu sifatnya menginfeksi dan merusak. Pertanyaannya, mengapa cinta bisa dicap sebagai virus?

Apakah cinta begitu sekedarnya? Sekedar bilang "I Love You", "Aku sayang kamu", dll kepada lawan jenis kita. Terlebih hingga mengatasnamakan Tuhan, misal, "aku mencintaimu karena Allah". Hmm, kesannya gimana gitu (baca: lebay -_-). Padahal kata itu muncul di zaman Rasul dalam konteks yang berbeda. Atau seperti yang digambarkan kisah klasik, maaf berupa ciuman, pelukan, atau bahkan yang lebih ekstrim hubungan badan. Kalau ditarik benang merah, kita tahu itu hanya soal "cara mengungkapkan/ mengekspresikan". Bahkan mengatakannya pun adalah salah satu CARA.

Hati-hati ! Jika cinta itu virus. Saat ini, yang menurut kita itu adalah bahagia. Suatu saat akan berubah kecewa. Hanya tinggal menyisakan jejak luka. Jika cinta letaknya di hati, maka luka itu ada di hati. Jadi, jika masih menikmatinya, jangan salahkan cinta, suatu saat nanti bakal merasakan perih. Berlagak sok galau, tidak mau makan, tidak mau mandi, tidak mau ini, tidak mau itu. Padalah yang katanya dicinta, masih menikmati hari-harinya tuh, bersorak gembira. Haduh, sungguh teramat ngenes. Itu masih mending lukanya di hati. Jika lukanya itu berbentuk fisik, tak hanya di hati? Itulah yang melebihi bencana gempa bumi atau pun tsunami.

Ada sejuta cara mengungkapkan cinta.  Mau jadi baik atau buruk itu adalah pilihan. Pilihan di tangan kita. Kitalah yang memilih. Jadi, kitalah yang memegang kendali cinta yang dititipkan oleh-Nya. Jangan sampai kita terperdaya oleh cinta. Jika kita terperdaya, maka itulah permainan nafsu. Cinta yang kita rasa sebenarnya adalah semu.

Jika Cinta itu Energi
Cinta adalah fitrah-Nya. Artinya cinta selalu memberikan manfaat (barokah). Hemat kata, cinta memberikan kita energi. Sederhananya, jika diumbar-umbar pesonanya, sungguh akan kehilangan energinya. Jadi, mari kita gunakan energi itu untuk kebaikan kita, ingat bukan yang menurut kita baik, tetapi yang benar-benar baik.

Beberapa pihak yang sengit bilang, "halah, yang bilang gitu mesti jomblo. Selalu bernasib jomblo. Hanya pembelaan diri tidak mengatakan cinta. Padahal tidak berani. Cemen!!!".

Itu Tetap Cinta
Tak perlu khawatir. Seperti pesan dari beberapa sajak Tere Liye,
Sama dengan kehidupan kita, perasaan kita
Menyimpan perasaan itu indah
Karena penuh misteri dan menduga
Sekali dia tersampaikan, tidak ada lagi menyimpan.

Menunggu seseorang itu elok
Karena kita terus berharap dan berdoa
Sekali masanya tiba, tiada lain kecuali jawaban dari kepastian
Sungguh tidak akan keliru bagi orang-orang yang paham.
 Dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta


Cinta itu rahasia, seharasia dia
Biarpun cinta tak dikatakan itu tetap cinta, begitulah kata Tere Liye. Tak dikatakan dan tersimpan dalam hati. Ini bukan memendam rasa. Ini hanya cara menjaga cinta, selama menjadi misteri. Hanya diri sendiri dan Tuhan yang tahu. Ya itu rahasia, hingga pada saat yang tepat, melalui skenario-Nya, maka akan terungkap juga. Jadi, CINTA ITU RAHASIA. Suatu saat bakal terungkap rahasia itu.

Saat ini,  mungkin kita adalah rahasia yang disembunyikan oleh Tuhan untuk seseorang. Begitupun sebaliknya, seseorang itu masih menjadi rahasia bagi kita. SESEORANG ITU RAHASIA, masih menjadi pertanyaan misteri. Siapa dia? Pada saatnya nanti, Tuhan akan mengungkapnya. Mungkin melalui sebuah pertemuan yang tak terduga. Hingga kita disatukan melaui IJAQ QOBUL. Saling membuka diri, dan kita akan tahu rahasia kita yang selama ini kita cari. Selama ini kita tanyakan.

Boleh jadi dia adalah seseorang yang sama sekali belum pernah kita kenal. Mungkin juga seseorang yang pernah dekat. Bisa jadi orang yang pernah sekedar berpapasan dengan kita. Pernah sama-sama berdiri dalam bus yang penuh berjubel mungkin. Atau bisa saja benar-benar seseorang yang selama ini kita kagumi. Benar atau tidak, segala kemungkinan itu saat ini HANYA ALLAH YANG MENGETAHUI.

Tidak kah ingat dengan kisah Ali dan Fathimah, suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda”. ‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”. Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Selama belum menikah segalanya masih rahasia. Setelah menikah, maka 'Ali tahu rahasia itu. :-)

Yakin bukan Sekedar Pasrah
Jika cinta itu anugerah dari Tuhan. Mengapa kita pusing-pusing memikirkan yang tak seharusnya kita pikirkan. Memikirkan bagaimana cara mengungkapkannya. Jika benar adanya cinta datang dari Tuhan. Serahkanlah segalanya pada Tuhan. Tuhan memiliki skenario terbaik untuk kita. Suatu saat kita bakal mengungkapnya, di saat yang ditentukan Tuhan. Tanya kapan? Tanyakanlah pada Tuhan. Jika itu terasa sesak di dada, lepaskan, ceritakan pada-Nya, bukan padanya. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Maka, yakinlah, jika kekuatan itu dari Tuhan. Mengapa kita bingung mencari jawaban dari pertayaan yang dibuat sendiri? Padahal kita tahu, Tuhanlah jawaban itu sendiri. Yakin bukan pasrah tanpa daya. Pasrah yang menyiratkan putus asa. Yakin memiliki semacam kekuatan. Jadikanlah itu sebagai kekuatan positif dekat dengan Tuhan, agar kita tidak lagi dihantui dengan pertanyaan yang dibuat sendiri.

Biarlah cinta itu sementara ini tetap menjadi rahasia, seperti dia yang masih dirahasiakan-Nya. Biarlah menjadi surprise terindah dari Allah. Kita akan terkagum saat segala rahasia itu terungkap sesuai kehendak-Nya.

Pada Intinya Cinta Itu...
Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar. Ruum (30):21].
Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”  [QS. Adz Dzariyaat (51):49].

Dari petikan Quran di atas kita akan paham bahwa tujuan cinta itu pada intinya adalah tanda-tanda kebesaran Allah agar kita selalu ingat pada-Nya. Jadi, masihkah galau terus mengingatnya? Padahal, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (Qs. ar-Ra’du: 28).

Karena yakin sama percaya itu beda

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon