Saturday, April 04, 2015

Kopi Darat di Kaligua Yuk

Selfie at Tea Walk (c) B 5 AJ
Refreshing, dulu adalah kegiatan yang kerap kali dilakukan saya dan kawan-kawan. Alih-alih membuang penat kala kuliah, alih-alih mencari inspirasi kala bergelut dengan skripsi. Satu-satunya kendala saat itu adalah bekal (duit) yang pas-pasan. Tak apa, "pokokmen mbuh kepriwe carane men bisa dolan". Mulai dari nabung receh sisa makan di kucingan (baca: angkringan), tukang cuci piring di hotel, jual sepatu melalui tokobagus.com, jasa sewa tenda dome, hingga ujung-ujungnya memanfaatkan fasilitas pinjaman lunak dari teman kos. :-D

Berbeda ceritanya dengan sekarang. Ketika kami ingin refreshing bersama, maka kendalanya adalah soal jarak dan waktu. Maka, tanggal merah selain Sabtu dan Minggu adalah satu-satunya kesempatan emas bagi kami. 

Berawal dari keresahan, berbagai unek-unek, yang kata salah seorang kawan saya adalah kerinduan. Maka, di suatu malam tepatnya senin malam, melalui kontak telepon seluler yang dikonferensikan, didapat hasil destinasi kopi darat (baca: kumpul bareng melemparkan kerinduan) adalah Kaligua, pada Hari Jumat, 03 April 2015. Pesertanya 5 orang, 4 orang yaitu Saya, Imam, Didin, dan Ida berangkat dari Cilacap, dan 1 orang  lagi yaitu M. Amin Fauzi (Oji)  yang katanya "uji nyali" dari Brebes. Kemudian, kita akan bertemu di pom bensin Paguyangan, Kab. Brebes. Untuk selanjutnya berangkat bersama menuju objek wisata Kaligua. Sebelum mencapai Kaligua, yaitu areal perkebunan teh yang dikelola PT. Perkebunan Nasional IX. Kami berhenti sejenak (baca: mampir) di Telaga Renjeng.

Misteri Ikan  Lele Keramat di Telaga Renjeng, Peringatan Bagi Kita
Telaga Renjeng, cagar alam seluar 48,5 hektar dengan nama resmi Tlogo Ranjeng berupa danau kecil yang terletak di daerah ketinggian diantara bukit-bukit ladang kentang, pohon pinus, dan pepohonan lainnya. Bagian pintu masuknya terdapat pohon beringin berukuran sangat besar yang cukup membuat tempat ini terasa teduh, ada yang bilang angker. Telaga ini tepatnya, berlokasi di desa Pandansari, kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Telaga ini dibangun pada tahun 1924, berada di bawah kaki Gunung Slamet dan merupakan bagian dari kawasan cagar alam milik Perhutani Pekalongan Timur. Konon, dahulu kala merupakan tempat mandi para tokoh kerajaan di Jawa.

Bagian terunik dari telaga ini adalah mitos ikan lele, kalau dibuat judul kurang lebihnya misteri ikan lele keramat Telaga Renjeng. Katanya tempat ini terkenal dengan jutaan ikan lele yang jinak. Terlebih jika dilempari nasi atau roti, maka ikan-ikan akan berkerumun, bergerombol rebutan makanan. Begitu banyaknya ikan, padahal tidak ada yang menaruh bibit ikan di telaga ini. Jadi tidak ada yang tahu persis dari mana asal ikan-ikan lele tersebut. 

Mitosnya, ikan-ikan tersebut tidak boleh diambil atau dibawa pulang apalagi dipancing. Jika dibawa pulang, maka orang yang membawa ikan tersebut sama saja membawa musibah, bisa sakit-sakitan, parahnya mendatangkan kematian. Pulang tinggal nama. Apalagi dipancing ya, jangan-jangan bisa mati terpancing. Hi, lumayan mengerikan juga ya. Ikan-ikan tersebut dipercaya sebagai "penghuni" Telaga Renjeng.

Namun, saat kami berkunjung ke telaga ini. Kami hanya menemukan satu dua ekor ikan lele. Sama sekali tidak sesuai dengan cerita yang dulu. Memang, banyak ikan yang begitu jinak dengan pengunjung. Ukurannya besar sekali. Jika membayangkan di warung makan, mungkin satu ekor ikan cukup untuk kami berlima. Ya, banyak ikan-ikan besar, tetapi bukan ikan lele. Itu ikan emas, ada juga ikan yang mirip gurame. Lantas, kemana ikan-ikan lele yang dikeramatkan itu?

Asal punya usul, cari tahu sana dan sini. Konon jutaan ikan lele yang biasa hidup di telaga 2 tahun terakhir ini menghilang begitu saja. Tidak ada yang tahu kemana hijrahnya. Namun, menurut yang dituakan, ikan-ikan lele tersebut berubah menjadi tikus-tikus sawah yang menjadi hama bagi lahan-lahan persawahan milik petani. 

Apapun mitosnya, pada intinya memberi pesan kepada kita untuk menjada kelestarian alam ini. Agar ekosistem yang ada tetap terjaga keseimbangannya. Dan tentu menjadi tempat wisata yang indah, menawan dan eksotis. Bagi saya, yang penting tempat ini masih bisa memberikan kesegaran. Kesegaran pikiran dan juga hati. Hati yang sepi ini, hehe. :-D

Panorama Telaga Renjeng dari Pintu Masuk
Niatnya selfie bareng ikan-ikan  Telaga Renjeng
Ikan-ikan penghuni Telaga Renjeng ukurannya besar-besar
Eko Sudarmakiyanto sayang ikan, hehe :-D
Kalo sudah selesai memberi makan dan berfoto dengan ikan. Yuk gon mari kita go, tancap gas lagi ke Agrowisata perkebunan teh Kaligua.

Perkebunan Teh Kaligua, Hijau yang Menyegarkan
Wisata Agro Kebun Teh Kaligua via Wikipedia
(ga sempet naik2 ke atas, :-D )
Wisata Agro Kaligua adalah kawasan wisata agro dataran tinggi yang terletak di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tepatnya di wilayah Brebes bagian selatan. Agrowisata Kaligua dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) Jawa Tengah dan merupakan diversifikasi usaha untuk meningkatkan optimalisasi aset perusahaan dengan daya dukung potensi alam yang indah. Hasil pengolahan perkebunan teh Kaligua adalah berupa produk hilir teh hitam (black tea) dengan merk “Kaligua” dalam kemasan teh celup dan serbuk. Wisatawan yang berkunjung dapat menikmati hangatnya teh hitam Kaligua di lokasi atau membelinya untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Begitu masuk ke areal perkebunan, kita langsung disuguhi pemandangan yang memanjakan mata. Begitu indahnya lansdcape panorama perkebunan teh. Jalan menuju wisatanya pun unik. Terbentuk dari bebatuan yang tertata rapi. Rekomendasi lah buat yang suka foto-foto apalagi selfie. Suasananya tenang didukung dengan udara yang sejuk (kata teman saya si, dingin). Aroma udara yang alami dengan aroma wangi daun teh. Aura warna hijau yang memukau. Sungguh cukup untuk menyegarkan pikiran (mungkin juga hati).

Katanya, warna hijau baik untuk menyegarkan otak kita. Berdasarkan suatu studi,warna hijau dapat membantu menghilangkan stress dan membersihkan pikiran kita. Jadi, berkunjung ke perkebunan teh yang didominasi warna hijau alami ditambah udara yang masih segar baik untuk kita-kita yang jemu dengan berbagai kepenatan di sekolah atau kantor. 

Namun, dibalik keindahannya, perkebunan teh Kaligua pun masih menyimpan banyak misteri. Misteri tentang sejarah perjuangan kemerdekaan RI di masa silam. Itulah alasan kenapa Tim Misteri Tukul Jalan-Jalan menjadikan kebun teh kaligua sebagai salah satu objek kunjungan. Dan menurut salah satu pemandu, pekan depan pun akan diselenggarakan acara dunia lain. Kenapa belum ada uji nyali ya, mungkin salah satu kawan kami, M, Amin Fauzi bisa ikut acara ini, untuk membuktikan uji nyalinya. :-D

Gali-gali info mengenai perkebunan teh Kaligua zaman dulu. Ternyata perkebunan teh Kaligua merupakan warisan pemerintah kolonial Belanda. Pabrik dibangun pada tahun 1889 untuk memproses langsung hasil perkebunan menjadi teh hitam. Kebun ini semula dikelola oleh warga Belanda bernama Van De Jong dengan nama perusahaan Belanda John Fan & Pletnu yang mewakili NV Culture Onderneming. Sebagai penghargaan, makam Van De Jong masih terawat sampai saat ini di lokasi kebun Kaligua.  Konon pada saat pembanguan pabrik, para pekerja membawa ketel uap dari Paguyangan menuju Kaligua ditempuh dalam waktu 20 hari. Peralatan tersebut dibawa dengan rombongan pekerja yang berjalan kaki naik sepanjang 17 km. Selama proses pengangkutan tersebut, para pekerja pada saat istirahat dihibur oleh kesenian ronggeng Banyumas. Sampai sekarang setiap memperingati HUT pabrik Kaligua setiap tanggal 1 Juni selalu ditampilkan kesenian tradisional tersebut.
Pintu Masuk , tempat beli tiket masuk Rp 10.000/orang
Selfie at Ikon teh Kaligua
Perjalanan menuju Perkebunan teh
Fasilitas Outbond di Kaligua via atiningtyas.blogspot.co.id
Fasilitas Penginapan Kaligua via atiningtyas.blogspot.co.id
Selfie at Ikon Produk  Pabrik Teh Kaligua
Wisata Kaligua, jalan menuju Gua Jepang

Inilah kebun teh, mau petik sendiri? via wisnuwidiarta.wordpress.com

Jalan setapak diantara sektor kebun teh via wisnuwidiarta.wordpress.com

Pucuk, pucuk, pucuk !!! wisnuwidiarta.wordpress.com
Beberapa fasilitas & produk Perkebunan Teh Kaligua via wisnuwidiarta.wordpress.com
Beberapa Objek Pilihan Wisata Kaligua via wisnuwidiarta.wordpress.com
Teh Kaligua, Tiket Masuk Wisata (Rp. 10.000/orang)

Dari kebun teh, masuk ke area wisata. Di sini kita akan menemui deretan warung. Bisa menjadi tempat alternatif untuk makan atau sekedar ngopi atau ngeteh. Tepan di depan warung-warung terdapat wisata air, yaitu sepeda air dan handboot. Jika melanjutkan perjalanan kurang lebih setengah km, ada Gua Jepang. Tak usah khawatir bagi yang malas atau tidak kuat jalan jauh aplagi nanjak. Ada kereta odong-odong yang siap mengantar dengan merogoh Rp 2.000 per orang untuk sekali jalan. Kita akan diantar langsung ke depan pintu masuk Goe Jepang. Masih ada lagi Tuk Bening katanya si sejenis sumber air yang masih sangat bening. Inilah air kehidupan, masih alami. Kalau bawa botol minum bisa diisi ulang disini. Serasa air kulkas. Masih ada lagi, Gua Angin, Makam Van De Jong, dan Puncak sakub. Katanya si dari puncak sakub kita bisa memandang dengan begitu indah puncak Gunung Slamet. Puncak sakub adalah puncaknya puncak dari perkebunan teh Kligua. Jika tertarik, bisa menempuh perjalanan lagi mungkin 1 30km melewati perkebunan teh melalui tea walk, dengan jalan kali dan medan yang terus menanjak curam. Berhubung cuaca yang gerimis dan sedikit mendung semendung hati kami. Jadi, kami memutuskan tidak naik ke atas. Terlebih kesadaran kami akan tulang-tulang kami yang sudah tidak muda lagi (baca: bukan tua). 

Oke deh, berhubung cuaca gerismis langsung saja masuk ke Gua Jepang

Gua Jepang, Gelap itu Menakutkan
Selfie at Depan Pintu Masuk Goa Jepang
Gua Jepang (Dokutsu Nihon) yaitu sebuah gua yang konon dibangun oleh tentara jepang sebagai tempat pertahanan. Terletak tepat dibawah bukit perkebunan teh Kaligua. Sejarah Gua Jepang yang tertulis di papan skema jalur Gua Jepang kurang lebih begini :

Goa Jepang dibangun saat pendudukan tentara Jepang di Indonesia sekitar tahun 1942. Menurut keterangan, Goa Jepang dibangun oleh masyarakat sekitar Pandansari dengan sistem kerja paksa (romusha). Di dalam gua terdapat beberapa ruangan, yaitu Ruang Pusat Komando, Ruang Tahanan, Ruangan Sidang, Ruangan Dapur, Ruangan Senjata, dll. Goa Jepang akhirnya digunakan sebagai tempat pertahanan tentara Jepangsendiri sebelum pergi saat pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Ir. Soekarno pada tahun 1945 di Jakarta. Pada tahun 1980-an dimasuki masyarakat untuk mencari barang-barang peninggalan Jepang dan pada tahun 1995 Goa Jepangdibuka untuk umum. Tahun 1997 hingga sekarang menjadi tempat wisata sebagai peninggalan bersejarah yang dilestarikan, dirawat dan dijaga oleh masyarakat berserta PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) Kebun Kaligua, Ds. Pandansari, Kec. Paguyangan, Kab. Brebes.

Memasuki Goa Jepang, tidak menyeramkan seperti yang dibayangkan kok. Kini seluruh jalur gua sudah dilengkapi instalasi listrik untuk penerangan. Dulu memang katanya menggunakan obor, lambat laun menggunakan lampu bohlam, dan kini menggunakan lampu neon. Hanya bagi yang memiliki naluri lebih, ketika memasuki ruangan-ruangan tertentu mungkin bisa merasakan "sesuatu". Iya, gelap dan sedikit dingin, kadang seperti mendengar suara-suara teriakan. Seperti yang dialami oleh saya. Sudah gelap, susananya dingin sedikit  mencekam, karena berjalanan di bagian paling belakang. Berhenti sejenak, memang benar ada suara teriakan semakin keras. Oh iya, itu teriakan yang berasal dari salah satu ruangan dalam perut saya. Ternyata saya baru ingat, saya belum sempat makan siang, hehe :-D.

Ini serius. Hati-hati jika mengambil foto di dalam gua. Apalagi yang suka selfie. Mungkin bakal terkaget dan membuat jantung berdebar lebih kencang. Sering ada penampakan yang muncul di foto yang kita ambil. Ini benar, sering terjadi di sini. Banyak pengunjung yang mengalami penampakan  di dalam gua ketika berfoto. Iya, sering kita ingin berfoto selfie sendiri ternyata hasilnya menjadi berdua, bertiga, bahkan berempat. Itulah ulah kawan-kawan yang iseng sirik melihat kawan ingin berselfie sendiri. Mau, foto sendiri, eh malah pada ikut nimbrung. :-D

Goa Jepang dalam Bahasa Jepang
Skema Jalur Goa Jepang (peta ruangan)
Lorong-lorong Goe Jepang
Ruang Tahanan
Ruang Pembantaian, tempat membunuh musuh atau romusha yang tidak produktif
Jalur pembuangan hasil pembantaian, tersambung dengan jalur goa yang lain

Ruang Sidang
Ruang Ritual, sekarang digunakan untuk tempat shalat pemandu
Panjang Goa Jepang kurang lebih sekitar 800 meter, akan tetapi yang hanya boleh dikunjungi oleh pengunjung hanya 300 meter. Selebihnya demi keamanan tidak boleh dikunjungi. Cukup membesarkan rasa penasaran ada apa dengan yang 700 meter? Mungkin bisa ditanyakan ke juru kunci setempat.

***

Itulah liburan saya dengan kawan-kawan melepas rindu alias kopi darat. Selain memperoleh semangat dari kawan-kawan yang lain. Kita bakal memperoleh ilmu dan pengalaman. Setidaknya jadi tahu sebagian kecil sejarah yang tidak tertulis di buku sejarah zaman masih duduk di bangku sekolah. Setidaknya mendapat pengalaman baru, bisa menceritakan ke rekan kerja, sanak saudara, saya pernah ke kesini loh. Pernah pegang ikan keramat, pernah ke kebuh teh, pernah masuh ke Goa Jepang, dll. 

Memperhatikan subjudul yang saya tulis. Mungkin seperti kehidupan kita, selalu ada yang namanya peringatan. Terserah mau mematuhi atau tidak, terserah boleh percaya atau tidak. Satu hal yang perlu kita ingat adalah, jika patuh mungkin kita akan melihat suasana bahagia seperti hiaunya hamparan perkebunan teh Kaligua. Atau jika tidak pun tak mengapa, tetapi apakah sanggup dengan siksaan nantinya? Seperti suasana gelap dalam ruangan pembataian di Goa Jepang. Sekian dan terima kasih, sampai jumpa di catatan perjalanan petualangan selanjutnya.

Karena yakin sama percaya itu beda

2 comments

Mas punten, ada 3 foto yang dipasang disitu hasil jepretan saya termasuk yang dr wikipedia
Makasih ya udah repost ��☺
www.atiningtyas.blogspot.co.id

Oke terima kasih informasinya mbak. Maaf belum dikasih sumber, krn sewaktu googling, ada lebih dr 1 sumber dg gambar yg sama, bingung malah lupa belum dicantumkan...

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon