Saturday, April 11, 2015

Saat Hujan Turun

Hujan, katanya menyimpan sejuta cerita. Cerita episode masa lalu. Masa lalu yang penuh dengan potongan-potongan kenangan. Ada yang diratapi.  Ada juga yang dirindukan. Ya, hujan itu unik seketika menjadi inspirasi bagi siapapun yang memiliki cerita dengannya. Seketika juga kadang begitu dibenci, mungkin karena hujan diam-diam menjadi saksi bisu tentang kisah seseorang yang pernah dilanda kecewa. 

Hujan selalu menginspirasi. Terlebih jika hujan itu adalah peristiwa yang kita lewati bersama. Bersama dengan "sesuatu" atau mungkin "seseorang". Pantas saja, kini banyak yang seolah terhipnotis dengan kata "hujan", seantero nusantara bahkan hingga ujung dunia. 

"Hujan tidak pernah jatuh di tempat yang salah. Hujan tidak pernah tahu dimana ia jatuh. Maka beruntunglah hujan yang jatuh di tempat yang tepat. Di tempat yang sedang membutuhkan hujan. Aku adalah tempat itu dan kamu adalah hujannya" begitulah bunyi sebagian kutipan dari sebuah tulisan. Tulisan yang ada di internet bahkan buku-buku yang berkeliling dunia sebelum penulisnya. 

Namun, saya tidak bermaksud bercerita yang memancing-mancing ke hal-hal yang bertema roman-roman atau melankolis. Ini hanya curhat kecil. :-D

***

Tentang rasa syukur
Saat Hujan Turun
Saat Hujan Turun (c) Eko Sudarmakiyanto
Ceritanya berbeda lagi jika hujan itu jatuh di desa tempat saya saat ini sedang berpetualang. Di tempat ini saya belajar dari hujan. Karena hujan, saya tahu mana orang yang selalu bersyukur dan mana yang kurang bersyukur. 

Waktu itu, saya secara rombongan dengan beberapa kawan melakukan perjalanan ke sebuah daerah di desa terujung dari kecamatan. Sebuah dusun terujung dan pada ujungnya adalah sebuah sungai besar yang bermuara ke laut, sebut saja Segara Anakan. Suatu ketika, di tengah perjalanan turunlah hujan begitu derasnya hingga tidak memberikan kami semua ancang-ancang untuk mencari tempat berteduh. 

Basah sedikit, kami berhenti di sebuah gubuk kecil. Hingga secara spontan, muncuk kicauan kicauan. Ada yang senang hujan turun, " Alhamdulillah hujan, artinya kita harus istirahat (baca: leren)". Ada pula yang memaki hujan, " A** malah hujan, kenapa hujannya harus sekarang sih, bikin kacau jadwal saja !!!". Bahkan ada juga yang berkomentar aneh, " Yes hujan, bisa nguji mantel baru. Kalo tidak hujan malah jadi repot, bagaiman bisa menguji kualitas barang yang saya pesan secara online."

Dalam atap yang sama, hujan yang sama. Ternyata ada rasa yang berbeda. Jadi hujan itu tidak salah. Bahkan ketika mampu menunjukkan karakter seseorang. Hujan tetaplah hujan, turunnya adalah membawa takdir. Mungkin benar kata salah seorang kawan. Perantara hujan, kita ditakdirkan untuk istirahat setelah seharian penuh dipanggang terik keliling desa. Mungkin saja, jika hujan tidak turun sekarang, kita tidak bakan sayang pada tubuh. Tetap melaju hingga lelah menyerang sekujur tubuh. Ya, hujan dimana dan kapan ia turun adalah nikmat, bersamanya membawa hikmah yang semestinya kita syukuri.

Tentang harapan
Di Suatu Titik, Ada Harapan (c) Eko Sudarmakiyanto
Apa jadinya jika hujan tidak turun di daerah ini. Daerah yang setiap hari saya lewati. Setiap pagi saat berangkat. Setiap sore saat kembali pulang. Mungkin, tanpa hujan akan jadi kacau ketambahan harga BBM yang berfluktuasi tak menentu seperti harga saham.

Hujan, itulah harapan para petani. Tanpanya, lahan-lahan yang menjadi tumpuan hidup sebagian besar masyarakat desa bakal kering. Itulah hujan yang selalu dinanti turunnya. Dirindukan kehadirannya. Begitu bahagia, terlukis lekukan seyum indah di bibir mereka, saat hujan turun. Hujan, temani lahan-lahan pertanian hingga padi mulai menguning.

Hujan, sebenarnya adalah harapan tunas-tunas baru untuk tumbuh menjadi tanaman. Rumput-rumput yang hijau karena hujan. Tanaman perkebunan yang rimbun karena ada hujan.

Hujan, adalah kehidupan bagi ikan-ikan di kolam, di rawa, di sungai. Jika, hujan tak datang, dan semua mengering. Mungkin kehidupan bukanlah harpan bagi ikan-ikan.

Hujan, harapan perekonomian mikro di pedesaan. Desa yang sebagian besar sangat bergantung pada kondisi alam. Terutama hujan.

Tentang doa
Doa Saat Hujan Turun via @al_uyeah
Air Hujan, nikmat yang banyak disebutkan Allah dalam Al-Qur'an. Hujan memiliki banyak manfaat dan fungsi. Dengan sebab hujan, Allah menumbuhkan tanam-tanaman, sayur-mayur dan buah-buahan sebagai sumber makanan, “dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu.” (QS. Al-Baqarah: 21).

Air hujan yang turun dari langit ini adalah air penuh berkah, banyak mengandung kebaikan. Ia merupakan air yang suci juga yang mensucikan. Membersihkan bumi dan isinya dari kotoran.

Hujan adalah rahmah. Baru saja diciptakan oleh Allah Ta’ala, sehingga Rasul pun meminta berkah melaluinya. Caranya dengan membasahi sebagian badan beliau dengan air berkah ini.

Rasul juga mengajarkan agar berdoa kepada Allah & meminta kebaikan kepada-Nya saat turun hujan. Karena saat itu termasuk waktu yang mustajab. Sehingga kita dianjurkan memperbanyak doa pada waktu tersebut. Rasul sangat berharap banyak kebaikan pada hujan yang Allah turunkan. Beliu berdoa saat melihat hujan yang lebat,
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
"Ya Allah, -jadikan hujan ini- hujan yang membawa manfaat kebaikan." (HR. Al-Buhari, dari hadits 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha)

Tentang rahasia Tuhan
Menunggu Kejutan dari Tuhan via Google Images
Bagi saya hujan itu tidak hanya inspirasi tetapi kejutan dari Tuhan. Artinya saat ini masih rahasia. Pernahkah menerka-nerka ada apa dengan hujan? Kenapa harus turun sekarang? Kenapa tidak satu jam yang lalu atau kenapa tidak satu jam kemudian, saat sudah tiba di rumah. Oh tidak, semua itu diluar kendali, semua itu hanya Tuhan yang Maha Mengetahui.

Saat melakukan perjalanan ke daerah di desa terujung kecamatan. Saat melewati jalan panjang yang diapit bulak sawah luas. Saya hanya melihat ujung dari sebuah jalan, hingga di pertengahan jalan, turunlah hujan. Sebenarnya saya bukan benar-benar mengetahui karakter kawan tentang rasa syukur. Namun, justeru saya yang merasa bersyukur, hujan telah mengingatkan saya pada rahasia Tuhan. Rahasia yang belum saya ketahui, tetapi sungguh membuat rasa penasaran tergambar jelas di kepala. Saat itu, bukan hanya harapan tanaman, ikan atau petani. Itu juga harapan saya, harapan mewujudkan sesuatu yang masih tertunda. Sebelum hujan turun, saya harus lebih dulu turun mencapai sesuatu yang belum saya raih. Inilah hujan, sesaat saya terdiam, dalam hati memberi pesan pada butir-butir air hujan. Pesan dalam bentuk doa, berharap besar butir-butir itu kembali naik dan menyampaikannya pada Tuhan. Dalam suasana yang sungguh damai itu. Mungkin ada yang bilang romantis. Bukan karena ada seseorang di situ. Bukan pula karena gemericik air hujan yang menciptakan alunan musik merdu. 

Saat hujan turun, aku bersyukur masih bisa berteduh dalam harapan. Melalui doa, saat hujan turun semoga Tuhan meridhai harapan saya agat segera terwujud. Tentang sesuatu yang harus dikejar dan diraih, mungkin juga menyambut kejutan dari Tuhan. Mungkin juga tentang kamu... ^_^

Ya, impian dan cita-cita yang masih tertunda. Impian dan cita-cita yang masih perlu diperjuangkan dan diwujudkan.Tidak bisa hanya diam berteduh saat hujan. Perjalanan masih jauh, ada yang perlu dituju. Masih ada yang harus diraih.

Selamat berhujan-hujanan, jangan lupa bawa jas hujan (mantel) jika melakukan perjalanan jauh...

Karena yakin sama percaya itu beda

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon