Saturday, May 02, 2015

Belajar Bukan Sekedar Belajar : Memaknai Sejarah Hari Pendidikan Nasional

Ilustrasi belajar :
Nur Faiz Darmahidayanto belajar mengaji (c) Eko Sudarmakiyanto
Belajar, belajar dan belajar. Mungkin bagi sebagian besar dari kita adalah kata yang kerap kali terdengar begitu jelas di telinga. Kata yang jelas tetapi membosankan untuk dijalani. Kata-kata yang selalu dingatkan oleh seorang ibu tanpa rasa bosan. Banyak dari kita yang hanya sebatas tahu bahwa belajar adalah berangkat ke sekolah, mendengarkan guru, mencatat pelajaran, menulis tugas, membaca tulisan, berhitung, pulang sekolah, mengerjakan PR, itu saja. Pokoknya sesuatu yang menurut kita memusingkan. Belajar yang kita sukai ya kalau bukan menggambar ya menyanyi. 

Belajar itu
Arti umum sejak kecil, belajar itu proses perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa.

Menurut para ahli, Winkel, Belajar adalah suatu aktivitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilakn perubahan - perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan sikap-sikap.

Menurut Ernest R. Hilgard belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.

Jadi, belajar itu proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku. Jika boleh saya ambil intinya, dalam arti sederhana belajar merupakan proses mental melakukan perubahan menjadi lebih "baik" tercermin dari tingkah laku.

Belajar dalam renungan
Belajar merupakan hak dan kebebasan bagi siapapun. Tidak terbatas waktu dan tempat, pun tidak terbatas umur dan gender. Artinya siapapun bebas dan bisa melakukannya. Jangankan manusia hewan saja bisa belajar, seperti anak elang yang melakukan penerbangan pertama.

Namun, sudah menjadi sifat yang manusiawi adanya rasa "malas" dan "mood" manusia yang selalu berubah setiap saat. Oelh karena itu, muncullah suatu "sistem" yang mengatur dan mengarahkan manusia agar dapat belajar sesuai dengan sasaran dan tujuan yang hendak dicapai. Sistem itu sekarang kita kenal sebagai "pendidikan".

Pengertian Pendidikan dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1. menjelaskan bahwa, "Pendidikan adalah  usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan  proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara."

Dahulu, pendidikan bukahlah hak setiap manusia. Hanya golongan/ kalangan tertentu yang berhak mengenyam pendidikan. Di Indonesia saat zaman penjajahan Belanda, hanya kalangan anak-anak priyayi pribumi dan orang Belanda yang memiliki hak pendidikan. Pendidikan saat itu pun terdapat kepentingan komersial dari Belanda.

Kondisi saat itu, rakyat harus berjuang agar bisa benar-benar belajar. Belajar adalah impian setiap anak-anak muda. Belajar itu memudahkan tetapi tidak bisa diraih secara mudah. "Banyak orang yang mau belajar, tetapi tidak ada kesempatan".

Perjuangan yang dipelopori Ki Hadjar Dewantara, bermaksud memberikan kesempatan kepada semua kalangan untuk mendapatkah hak pendidikan. Pendidikan yang memajukan pemikiran. Pemikiran untuk meraik kemerdekaan. Kemerdekaan yang sesungguhnya.

Namun, kondisi saat ini sungguh 360 derajat berbalik. " Kesempatan belajar terbuka lebar, tetapi kebanyakan orang tidak mau". Belajar harus dipaksa, harus diiming-imingi dulu dengan sesuatu yang menyenangkan.

Dulu orang menuntut pendidikan, sekarang pendidikan yang menuntut orang. Jadi, orang yang butuh pendidikan atau pendidikan yang butuh orang. Jika benar orang yang butuh pendidikan lantas apa alasan tidak mau belajar? Mungkin dengan sedikit mengetahui sejarah pendidikan nasional, kita akan tergugah betapa pentingnya belajar. Betapa indahnya nikmat belajar.

Sejarah Pendidikan Nasional
Hari pendidikan nasional yang diperingati setiap tanggal 02 Mei tidak terpisahkan dari cerita sejarah dan sosok seorang pahlawan yang bernama Ki Hadjar Dewantara. Tanggal 02 Mei sebenarnya merupakan tanggal lahir Ki Hadjar Dewantoro. Siapa Ki Hadjar Dewantoro, sehingga tanggal lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional ?

Ki Hadjar Dewantoro
Ki Hadjar Dewantoro
Ki Hadjar Dewantoro di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dan diberi nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat yang berasal dari keluarga di lingkungan kraton Yogyakarta, putra dari GPH Soerjaningrat, dan cucu dari Pakualam III. Beliau sempat bersekolah di ELS dan STOVIA. Pernah juga menjadi wartawan di beberapa surat kabar terkemuka di zaman itu dengan tulisan yang inspiratif, kominikatif dan antikolonial.

Saat masih di STOVIA, beliau aktif berorganisasi  yang bergerak dalam bidang ekonomi, sosial, dan kebudayaan yaitu Boedi Oetomo (EYD : Budi Utomo) yang berdiri pada tanggal 20 Mei 1908. Pendiriannya menjadi tonggak permulaan pergerakan nasional di Indonesia sehingga sekarang diperingati sebagai Hari Kebagkitan Nasional.

Kemudian Soewardi bersama E.F.E. Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dikenal sebagai Tiga Serangkai mendirikan organisasi politik pertama Indische Partij pada 25 Desember 1912. Hal yang paling terkenal adalah saat beliau menulis sebuah tulisan berjudul, "Als ik een Nederlander was" yang artinya seandainya aku seorang Belanda sebagai bentuk sindiran dan protes terhadap pemerintah Hindia Belanda. Akibatnya tiga serangkai di asingkan ke Belanda.

Saat pengasingan di Belanda, mereka bergabung dan aktif di organisasi Indische Vereeniging yang pada mulanya bergerak di bidang sosial dengan tujuan pesta dansa dan pidato. Namun sejak tiga serangkai bergabung, kemudian tahun 1925 Indische Vereeniging namanya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia, dan menerbitkan majalah Indonesia Merdeka, tahun 1926 dibawah pimpinan Mohamad Hatta, tujuannya pun berubah menjadi Indonesia Merdeka.

Di Belanda, Soewardi merintis cita-cita memajukan kaum pribumi hingga memperoleh Europeesche Akte yang merupakan ijazah ilmu pendidikan sebagai pijakan mendirikan lembaga pendidikan. Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh ini merupakan dasar mengembangkan sistem pendidikan sendiri.

Taman Siswa
Sekembalinya dari Belanda tahun 1919, beliau bergabung di sekolah binaan saudaranya dan bekal mengajar ini sebagai bekal mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa pada 03 Juli 1922. Saat beliau genap berumur 40 tahun, beliau mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara, menghilangkan gelar nama kebangsawanan agar lebih merakyat.

Prinsip dasar pendidikan Taman Siswa yang menjadi pedoman bagi seorang guru dikenal sebagai Patrap Triloka, yaitu konsep yang dikembangkan oleh Suwardi setelah ia mempelajari sistem pendidikan progresif yang diperkenalkan oleh Maria Montessori (Italia) dan Rabindranath Tagore (India/Benggala). Patrap Triloka memiliki unsur-unsur (dalam bahasa Jawa):
ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani
di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan
Kalimat inilah yang kini menjadi panduan dan pedoman dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Dalam kabinet RI pertama beliau diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (Menteri Pendidikan Nasional). Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari Universitas Gadjah Mada. Atas jasanya dalam merintis pendidikan umum, beliau dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959). Beliau meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata

Potongan Sejarah di Sisi Lain
K.H Ahmad Dahlan
Jika kita membaca kembali sejarah, khususnya tentang organisasi-organisasi pergerakan nasional. Maka, kita akan menemukan organisasi lain di bidang pendidikan yang didirikan pada 18 November 1912 di kampung Kauman, Yogyakarta. Artinya pendiriannya 10 lebih awal dari Taman Siswa. Dari dahulu hingga sekarang kita masih mengenalnya dengan nama yang sama, organisasi itu adalah Muhammadiyah yang didirikan oleh K. H. Ahmad Dahlan. Kegiatannya banyak membangun sekolah dan melakukan kegiatan sosial, dan sarana pendidikan, tetapi dalam menjalankannya berpegang pada prinsip syariat Islam. Tujuan pendirian Muhammadiyah antara lain : memajukan pengajaran dan pendidikan berdasarkan agama Islam, mengembangkan pengetahuan ilmu agama dan cara-cara hidup menurut peraturan agama Islam yang diselaraskan dengan kehidupan modern. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

Pendirian Muhammadiyah merupakan wujud kesadaran akan bahaya penyimpangan. Penyimpangan menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan adaptasi yang dikenal sebagai klenik dan gimik-gimik spiritual nyeleneh. Kiprah K.H. Ahmad Dahlan di dunia pendidikan itu diawali juga sebagai pengajar di sebuah sekolah milik para priayai dan kalangan anak-anak Belanda, berlahan ia pun mampu mengubah persespsi bahawa Islam itu fleksibel serta toleranasi dengan ilmu pengetahuan, bahkan lebih logis dan dapat diterima baik dari kalangan kaum elit atau juga rakyat jelata pada saat itu.

Memaknai Hari Pendidikan Nasional
Belajar Sepanjang Waktu
Apapun ceritanya di masa silam, bagaimana pun kontroversinya. Tidak masalah kan siapa yang jadi pahlawan? Toh para pengajar (guru) itu pahlawan tanpa tanda jasa. Itu bukan masalah. Pendidikan tidak harus dingat cuma sehari, tetapi setiap saat. Toh kewajiban kita belajar tidak terbatas waktu dan umur kan? Seperti pepatah yang sering kita dengar "Long Life Education (pendidikan seumur hidup)". Atau jika kita ingat saat mengaji di masa kecil ada sabda Nabi, "Utlubul ‘ilmi minal mahdi ilal lahdi (Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai [menjelang] liang lahat)".

Belajar untuk Kebahagiaan
Hal paling penting dalam pendidikan adalah bagaimana kita memahami "makna" belajar dengan segala kemudahan saat ini. Sejarah mengajarkan pada kita bahwa "belajar butuh perjuangan", "belajar itu untuk meraih kebahagiaan, kebahagiaan lahir dan batin, kebahagiaan dunia dan akhirat". Masih malas belajar?
"Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Jika engkau tak tahan lelahnya belajar, engkau akan menanggung perihnya kebodohan."
- Imam Syafi'i

Untuk apa belajar?
Memang benar belajar itu menjadikan kita yang tidak tahu menjadi tahu. Namun, belajar itu bukan sekedar itu.

Belajar bukan sekedar mencari gelar dan mendapat ijazah. Jika kita mengartikan sesempit itu tentu kita bakal mengeluh karena biaya pendidikan terlampau mahal, seleksinya susah. Berarti hanya orang kaya saja yang bisa mengenyam pendidikan tinggi terlebih di perguruan tinggi bergengsi ternama.

Belajar bukan sekedar membuat kita pintar. Jika sempitnya arti seperti itu berarti banyak pendidikan yang gagal, atau belajarnya gagal. Kita pernah menemukan banyak orang, atau  bahkan terjadi pada diri kita sendiri. Setelah menimba ilmu, setelah lulus sekolah. Kita merasa tidak mendapat apa-apa, tidak bisa apa-apa, tidak ada perubaan apa-apa.

Bahkan jika belajar itu sekedar sekolah formal, berarti Indonesia gagal mencapai tujuannya, mencerdaskan kehidupan bangsa. Kita tahu banyak yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan formal.

Belajar itu lebih dari yang kita kira.
Do not learn to be successful, but to raise the soul Jangan belajar untuk menjadi sukses, tapi untuk membesarkan jiwa
- Three Idiots
Karena katanya sukses itu bukan kemapanan materi esok kita jadi apa. Namun kemapanan jiwa dan emosi, esok bagaimana kita menjadi lebih bijak dan dewasa.

Saya setuju dengan yang diungkapkan oleh Tere Liye,
Anakku, kalau kau besar kelak, maka ingatlah selalu:
1. Jangan sekadar belajar bahasa (entah itu bahasa indonesia, inggris atau lainnya), tapi lebih penting belajar menulis.
2. jangan sekadar belajar IPA, fisika, biologi, kimia tapi juga memahami kebijakan alam dan keseimbangan.
3. Jangan sekadar belajar IPS, geografi, ekonomi, sosiologi, dsbgnya tapi juga melihat dunia membentang luas dgn keberagaman dan kesamaan
4. jangan sekadar belajar PMP, PPKN atau apalah nanti namanya, tapi juga tentang etika, moralitas dan kepedulian
5. jangan sekadar belajar matematika, aljabar, kalkulus dsbgnya tapi lebih penting belajar nalar dan sistematika
6.Terakhir, yang paling penting, jangan sekadar belajar agama, lengkapilah dengan akhlak terpuji dan kebermanfaatan.

Ilustrasi belajar via Deviatart
Belajar itu bukan sekedar proses perubahan menjadi lebih baik. Terlebih baik menurut relativitas manusia. Namun baik dalam arti yang sebenarnya, baik menurut Allah. Pepatah bilang, "Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan teknologi hidup menjadi murah, dengan iman hidup menjadi terarah".

Belajar itu menyelaraskan antara pikiran dan hati yang kemudian menggerakkan fisik. Jadi, belajar itu proses perjuangan agar berubah menjadi lebih baik, memberi kita pemahaman agar terarah dan membawa keberkahan. Itulah ilmu yang bermanfaat yang diamalkan, tidak hanya memberi kebaikan untuk diri sendiri, keluarga, bangsa, negara atau agama, tetapi juga alam semesta bahkah hingga kembali pada-Nya.

Karena yakin sama percaya itu beda

1 comments so far

mantepp kok, beni sma negeri majenang

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon