Saturday, May 09, 2015

Pernah Ada atau Mungkin Masih Ada

Pernah Ada via afiftalilia
Ingat-ingat, pernah ada. Mungkin kau, kau, atau kau. Pokoknya mah kau lah. Pernah ada sesuatu yang tersembunyi di relung hati terdalam. Sesuatu yang benar-benar tidak ada yang tahu. Katanya, itu adalah hal paling rahasia. Rahasia antara kau dan Tuhan. 

Dibilang rahasia, akan tetapi teman-teman dekat, kadang suka menerka-nerka. Menebak-nebak apa yang ada di dalam sana. Kadang ada yang tebakannya benar, eh malah pasang wajah inosen. Seolah-olah itu tidak benar. Teman-teman jadi tambah penasaran. Kadang juga tebakannya sedikit melenceng, justeru membuat wajah penuh tanda tanya, "kok bisa sih?". Namun, itulah kawan, mereka sungguh pandai menghubung-hubungkan sesuatu, seperti penelitian, mulai dari mengamati, menganalisa, membuat hipotesa, dan hingga membuat kesimpulan. Itu membuat geli, lucu, dan aneh. Namun, hati membenarkannya. Tak jarang juga yang memerahkan pipi tanda tersipu malu. "Tidak akan ngaku, meski hati teriak bahwa kagum  itu ada. Tapi lisan meyangkalnya".

Judulnya pernah ada. Eh jangan-jangan masih ada ya?
Masih ada yang betah tersembunyi di dalam hati. Cie cie...
Eits salah, yang tersembunyi mungkin tidak betah, kau saja yang betah menyembunyikannya. Sedikit-sedikit bisa nebah nih. Itu perasaan ya. Perasaanmu pada seseorang yang telah lama disembunyikan, begitu rapi disimpan dalam hati.

Menurut orang, dia sungguh biasa. Namun, bagi kita, dia adalah orang yang luar biasa. Hal apapun tentangnya merupakan sesuatu yang menyenangkan. Mulai dari kabarnya, kebiasaannya, dan tentu senyumnya. Iya tidak?

Sayang, hanya bisa melihatnya dari jauh. Melihatnya bahagia pun rasanya turut bahagia. Melihatnya sedih pun turut sedih. Namun, bisa apa, rasa ingin mengurangi kesedihannya, tak bisa. Apa daya, diri yang tak mampu menjangkaunya. Sungguh indah melihat dia senyum dari jauh. Eh waktu ia mendekat. Walau sekedar bilang "hai", dan nyebut nama kita, tiba-tiba ada sesuatu yang menggema. Ada yang bergerak kencang, berdetak semakin keras, sungguh aneh. "Hanya bisa melihatnya dari jauh. Sembari membisik doa lirih, agar Allah menjaganya selalu dalam kebaikan".

Sepertinya memang lebih baik mengagguminya dari jauh. Bukan karena tak mampu mengungkapkan. Hanya tak mampu melihatnya kacau jika dia tahu rasa ini. Oh, tidak kok malah jadi ribet gini ya. Lucu jadinya, kalau sakit gara-gara mikirin yang dikagumi. Padahal yang dikagumi belum tentu mikirin kamu. Iya tidak? "Meski rasa ini melelahkan pemiliknya, tetapi entah kenapa masih saja banyak orang yang memeliharanya".

Sudah-sudah, kagum pada seseorang itu tidak salah. Katanya itu anugerah yang auranya merah jambu. Jadi dijaga jangan sampai yang begitu indah dengan warna merah jambu itu menjadi "virus" merah jambu. 

"Mengaggumi dalam diam", bagi sebagian besar orang dianggap sebagai hal yang sia-sia, pengecut, pecundang, penakut, cemen, dll. Iya benar, memang penakut, takut dosa. Tau tidak, kalu boleh kasih pendapat, menganggumi dalam diam itu lebih perkasa dibanding yang langsung mengungkapkan perasaannya itu. Mengapa, orang yang langsung mengungkapkannya, hanya berjuang hari itu. Namun, pada penganggum dalam diam, harus berjuang berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun-tahun hingga tiba di batas waktu yang telah ditentukan oleh-Nya. Perjuangan tidak hanya dengan waktu, tetapi dengan diri sendiri, mengelola gejolak jiwa yang ada. Menjaga hati yang diaduk-aduk tak karuan rasanya. "Bbanyak alasan tuk bisa jatuh hati, tapi karena tahu diri, kita tak akan menghampiri. Cukup mengagumi dalam diam".

Ini lah saat kita diuji. Apakah kekaguman itu membuat kita melejit atau malah terjatuh. Jika tak mampu mengelola kekaguman itu kita bakal terjatuh dalam jurang kegalauan. Lambat laun akan memangsa kita dalam keterpurukan, tak sadar kita termakan usia. Hanya penyesalan yang ada.

Namun, jika kekaguman itu dikelola sesuai porsinya, itu akan menjadi pemicu semangat. Tak lantas kekaguman padanya mengalahkan kekaguman pada-Nya.  Sebab, "kekaguman tidak menjadikan kita lupa siapa yang harus kitab puji dan puja. Hanya Allah saja, tidak ada lainnya. Maka, kekaguman yang diberikan oleh-Nya melalui dirinya selayaknya menjadi semangat untuk terus meningkatkan kualitas diri, semakin memantaskan diri. Agar pada waktunya nanti kita benar-benar siap memperoleh jawaban atas doa yang selama ini kita panjatkan kepada-Nya.

Jadi, mengaggumi dari jauh bukan tak berani mengungkapkan. Hanya menjaga perasaan hingga pada waktunya. Mungkin saat ini hanya mampu mengaggumi dari jauh. Tidak berani menjangkaunya karena takut dosa. Suatu saat tunggu pembuktiannya. Akan ada pangeran yang menjemput bidadarinya, akan ada bidadari yang dijemput pangerannya, dan menjadi kekasih halal. Kawan petualang menuju Firdaus-Nya. Hehe :-D

Intermezzo :
Download Menganggumi Dari Jauh - Tulus
Download Maidany - Jangan Jatuh Cinta
Download Marry Your Daughter - Brian McKnight
Download Yovie & Nuno - Janji Suci

Karena yakin sama percaya itu beda

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon