Sunday, September 04, 2016

Bukan Pecinta Alam atau Penikmat Alam hanya Pengagum Alam

Bukan Pecinta Alam atau Penikmat Alam hanya Pengagum Alam Merapi
Lama tidak menulis, karena saya bingung mau nulis apa. Alih-alih sibuk, ternyata karena tidak menyempatkan diri. Maka, pada kesempatan ini, saya mencoba menulis lagi, yang dilatarbelakangi oleh ajakan kawan-kawan untuk mendaki gunung, beberapa ada yang mengajak travelling, dll. Di tulisan sebelumnya bertemakan petualangan alam, kini Bukan Pecinta Alam atau Penikmat Alam hanya Pengagum Alam.
Menyebut mendaki gunung, saya rasa ini adalah bahasan yang selalu menarik. Aktivitas ini sebenarnya sudah dilakukan oleh masyarakat pada jaman dahulu untuk tujuan spiritual, peneliti untuk tujuan ilmu pengetahuan, militer untuk latihan dan pemetaan. Hingga komunitas mahasiswa yang melatarbelakangi istilah pecinta alam.

Pecinta Alam
Pecinta alam, sebuah istilah untuk menggambarkan seseorang, kelompok orang, komunitas, atau organisasi yang kegiatannya menjelajah dan mengeksplor alam dengan berbekal mental, fisik, skill, alat keamanan, dan prosedur yang tepat guna mencapai tujuan kelestarian alam. Begitu kira-kira yang saya pahami saat masih sekolah. 

Saat ini, pecinta alam identik dengan mendaki gunung. Artinya semua orang bisa menjadi pecinta alam tanpa harus melalui diksar (pendidikan dasar) fisik, metal dan skill, yang penting mampu mendaki gunung hingga puncak. 

Penikmat Alam
Penikmat Alam, istilah untuk seseorang atau kelompok yang menyebut dirinya sebagai petualang yang katanya hanya menikmati keindahan dan pesona alam tanpa merusak alam tersebut.

Apapun definisinya, saat ini penikmat alam pun berubah arti menjadi sosok petualang yang benar tidak mengambil apapun kecuali gambar profil untuk sosial media, tetapi sayangnya tidak peduli dengan jejak, bukan jejak kaki, tetapi jejak sampahnya.

Kegiatan mendaki gunung pun menjadi euforia, dan marak dilakukan oleh siapapun. Entah karena pengaruh film 5cm atau pengaruh teman, atau puber, pokoknya tidak keren kalo belum mendaki gunung. Semua orang akan berlomba-lomba mendaki gunung, mengoleksi bak cinderamata. Bangga memposting foto-foto di puncak, mengejar sunrise, menangkap sunset. 

***
Pada perkembangannya, entah karena pengaruh acara My Trip My Adventur atau pengaruh agen tour & travel atau efek stress. Kegiatan pecinta dan penikmat alam pun menjadi luas artinya yaitu adventur.

Banyak orang berkompetisi dan berbondong-bondong mencari tempat wisata yang unik dan eksotis di Indonesia kemudian mendokumentasikan di sosmed diviral ribuan kali. 
Tidak heran jika semua orang bangga mengeksplor dan mengekspos wisata Indonesia. Indonesia memang begitu kaya, kaya akan potensi alamnya, keanekaragaman hayatinya, begitu kaya akan tempat-tempat eksotisnya, keragaman budayanya. 
Menurut Kang Maman notulis ILK (Indonesia Lawak Club), "Indonesia adalah sekeping surga yang diturunkan Tuhan ke muka bumi. Terbentang antara Sabang sampai Merauke, antara Miangas sampai Pulau Rote, dengan 18.306 pulaunya.Jika setiap pulau kita kunjungi tiga hari saja, perlu 150 tahun untuk menjelajahinya atau selama dua kali lipat usia harapan hidup orang Indonesia. Jadi, setidaknya butuh hidup dua kali untuk bisa menamatkan, menelusuri seluruh pulau di negeri ini, yang di dalamnya hidup 250-an juta manusia yang terdiri dari 1.342 suku bangsa."

Apapun sebutannya, entah pecinta alam, penikmat alam, atau adventur yang penting selama melakukan perjalanan, bertualang, travelling, backpacker, atau berwisata di tanah surganya Indonesia agar memperhatikan :
[1] Tidak mengambil apapun kecuali gambar,
[2] Tidak membunuh apapun kecuali waktu,
[3] Tidak meninggalkan apapun kecuali jejak

***
Bukan Pecinta Alam atau Penikmat Alam hanya Pengagum Alam Gede Pangrango
Saya menulis tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan suatu pihak. Saya hanya curhat, saya sudah mengalami semua itu baik mulai dari mengaku-ngaku pecinta alam, penikmat alam, petualang, pendaki gunung, dan lain sebagainya. 

Saya mengaku, saya pun dulu pernah melakukan banyak kesalahan terhadap alam. Mungkin, kawan-kawan juga ada yang tidak sadar melakukan itu, dalam lingkup pendakian gunung misalnya. Beberapa kesalahan yang saya lakukan :
[1] Melanggar 3 (tiga) poin tidak mengambil, tidak membunuh, tidak meninggalkan. Ini yang saya yakin hampir semua orang sering langgar baik secara sadar maupun tidak, termasuk saya sendiri. Di dalamnya termasuk memetik bunga yang katanya abadi, membunuh hewan atau tumbuhan yang kita tidak tahu itu dilindungi atau tidak, dan yang jelas meninggalkan sampah maupun corat coret atau dikenal dengan vandalisme.
[2] Setuju dengan konsep pendakian masal. Kita tidak pernah berpikir dari akibat pendakian massal. Sebagian besar dari kita hanya melakukan pendakian massal sebagai formalitas saja, asal program terlaksana, mengerahkan massa, menuju puncak, mengejar sunrise atau sunset, mengambil banyak foto, menemukan sesuatu atau mungkin seseorang, kemudian selesai. Tidak masalah dengan pendakian massal selama sudah dipertimbangkan dan diperhitungkan dengan resiko yang mungkin muncul. Melihat kondisi dan pemahaman setiap peserta berbeda-beda. Apakah menjamin tidak merusak atau tidak meninggalkan sampah? Itu alasan saya lebih suka mendaki gunung dengan kelompok kecil dengan anggota 3 s.d. 7 orang.
Hal yang saya sadari, ternyata saya salah. Saya keliru karena saya belum benar-benar paham makna mencintai alam. Alam itu tidak hanya gunung kawan...

Poin pentingnya, seluruh perjalanan petualangan atau wisata itu bukan masalah siapa kita, tetapi bagaimana kita. Semakin banyak gunung yang didaki semakin mengubah pemahaman saya, dan saya lebih sepakat dengan sebutan pengaggum alam. Sekali lagi, alam bukan hanya gunung, bisa air terjun, bisa gua, bisa sungai, danau, waduk, pantai, apapun itu semua adalah bagian dari alam.
Biasanya ada 2 (dua) sebab mengapa seseorang melakukan petualangan di alam :
[1] Menghabiskan ego. Ini merupakan alasan yang menurut saya cenderung positif (baca: menghibur diri penulis). Mumpung belum menikah, bisa main hingga ujung dunia, karena jika sudah tidak sendiri lagi perlu menyeimbangkan ego. Kadang harus mengesampingkan ego pribadi. Atau mumpung belum punya anak, bersama pasangan bisa jalan-jalan ke tempat-tempat tertentu. Karena jika ego belum habis, maka masih banyak tepat yang harus dikunjungi. Pada waktu ego itu habis, maka perlu menetapkan tujuan bersama sehingga memungkinkan mengubah keinginan.

[2] Pelampiasan masalah. Ini alasan kebanyakan orang, termasuk saya. Ada yang patah hati, stress di bangku kuliah, ada yang jenuh di meja kerja , dan apapun masalahnya itu. Mereka akan membuat rencana liburan untuk mencari waktu bersantai, berelaksasi, mencari kesegaran baik fisik maupun pikiran, mungkin juga hati.

Hayooo, apa alasan kawan-kawan? apapun itu ada masa akan berhenti atau bahkan memulai.

***
Menurut saya, penganggum alam adalah cara sederhana mencintai alam. Kawan-kawan tau filosofi pengaggum? Ketika seorang penganggum mencintai sesuatu, maka jika dia tidak bisa merawatnya, paling tidak, dia tidak merusaknya.
Saya lebih setuju dengan penganggum alam. Misal, ketika dia tidak mampu mengobati lapisan ozon bumi kita yang katanya mulai berlubang, sehingga menyebabkan pemanasan global. Paling tidak, bisa menanam biji benih tanaman, agar menyumbang satu warna hijau dan nol koma sekian persen oksigen untuk bumi. 

Misal lagi, ketika kita tidak bisa menghentikan maraknya kanker, paling tidak mencoba tidak merokok yang menyumbang nikotin dan berpotensi 25% sebab kanker paru-paru orang lain yang menghirup asap rokok. Karena manusia adalah bagian dari rantai makanan dalam ekosistem alam itu sendiri.

Meski, tidak bisa mencegah berbagai penyakit yang disebabkan sayuran berpestisida, paling tidak mencoba menanam sendiri kangkung yang organik.

Haha, maaf tulisan ini hanya menghibur diri. Karena hanya bisa menganggumi gunung Slamet dari atap rumah, maka bentuk mencintai alamnya hanya menanam kangkung di atas rumah. :-)

Ini bagian indahnya, mencintai alam tidak harus naik gunung kawan, tidak harus pergi ke tempat yang jauh-jauh belum dijamah siapapun. Sederhana, cukup memandang gunung Slamet dari atap rumah sambil menanam dan merawat kangkung yang menurut saya organik, karena dikolaborasikan dengan memelihara beberapa ekor ikan. Ikannya juga duharapkan organik, karena pakannya memanfaatkan sejenis lumut atau paku-pakuan.

Karena yakin sama percaya itu beda

This Is The Newest Post

Diam Itu Emas, Bicara yang Baik Itu Permata
EmoticonEmoticon